Hanya butuh dua kali dering sebelum sambungan teleponku diangkat oleh Arthur. Sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, aku segera mengutarakan keresahanku begitu Diah berlalu dari kamar.“Aku enggak mau belanja bareng Diah,” cetusku, tidak memberi Arthur sapaan basa-basi.“Ada apa, Cassidy?” Suara berat Arthur terdengar tenang dari seberang saluran, diiringi samar-samar gemeresik lembaran dokumen. “Bibirmu masih menginginkanku, sampai-sampai kamu harus menelepon pagi-pagi begini?”Pipi mendadak terasa hangat, tetapi aku menahan napas, menolak terpancing oleh ucapan provokatifnya “Kamu suruh Diah nemenin aku beli gaun buat acara lelang nanti malam?”“Ya, bukankah bagus jika acara belanja ditemani oleh sesama wanita? Duan tidak akan mengerti warna gaun atau perhiasan yang cocok untukmu.”“Tapi enggak sama Diah!” tegasku.“Jangan memicu drama kekanak-kanakan, atau saya batalkan rencana kita ke rumah lelang,” ancam Arthur. Intonasinya berubah rendah, sarat akan otoritas yang
آخر تحديث : 2026-09-05 اقرأ المزيد