MasukTAK!Suara keras ketukan palu kayu bergema di seluruh ruangan. Memecah lamunanku.“Sold! Terjual kepada penawar via telepon seharga tiga ribu dolar.”Ucapan juru lelang di atas panggung bergaung samar di telingaku. Pikiran tentang bagaimana caraku meghadapi Leon jika kami bertemu nanti benar-benar mengganggu konsentrasi. Kacau, fokusku benar-benar berantakan malam ini.“Tidak ada satupun Gilded Serpent yang menaikan paddle nomor. Mahkota itu palsu,” ucap Arthur yang tengah duduk dengan santai di sampingku. Satu tangannya bertumpu pada sandaran lengan, sementara matanya memandang lurus ke panggung di bawah sana.“Aku harus sentuh langsung dan teliti pakai alat khusus, baru bisa memastikan,” ucapku menaggapi penialain Arthur ada mahkota yang oleh juru elang disebut berasal dari era Majapahit.Arthur menoleh mendengar ucapanku. Dia memiringkan kepalanya, mencari mataku yang masih menatap panggung dengan pandangan kosong. “Jadi rencanamu ke sini adalah untuk meminjam barang lelang yang su
Arthur menatap dingin pada Diah dan Duan yang mengekor di belakangku. Kedua pengawal itu masuk ke dalam penthouse dengan tangan yang dipenuhi tumpukan kantong belanja berlogo merek-merek mewah, berjuang menjaga keseimbangan saat melangkah masuk ke dalam penthouse.“Kamu berniat membuka gerai fesyen di rumah saya?” tanya Arthur dengan satu alis terangkat.Dia melepaskan jas hitamnya, dan mengendurkan dua kancing teratasnya sebelum mendaratkan tubuh dengan santai di sofa panjang ruang tengah.Aku meliriknya sekilas lalu berjalan melewatinya dengan raut acuh tak acuh. Namun, ingatan tentang kartu hitam miliknya yang harus segera aku kembalikan membuat aku menghentikan langkah. Aku berbalik, lalu menaruh kartu hitam itu di atas meja rendah di depan Arthur.“Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tuan Chairman,” ucapku sarkastik.Arthur tidak terpengaruh oleh sindiranku. Satu sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum miring yang menjengkelkan. Matanya menyapu tumpukan kantong belanjaan d
Hanya butuh dua kali dering sebelum sambungan teleponku diangkat oleh Arthur. Sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, aku segera mengutarakan keresahanku begitu Diah berlalu dari kamar.“Aku enggak mau belanja bareng Diah,” cetusku, tidak memberi Arthur sapaan basa-basi.“Ada apa, Cassidy?” Suara berat Arthur terdengar tenang dari seberang saluran, diiringi samar-samar gemeresik lembaran dokumen. “Bibirmu masih menginginkanku, sampai-sampai kamu harus menelepon pagi-pagi begini?”Pipi mendadak terasa hangat, tetapi aku menahan napas, menolak terpancing oleh ucapan provokatifnya “Kamu suruh Diah nemenin aku beli gaun buat acara lelang nanti malam?”“Ya, bukankah bagus jika acara belanja ditemani oleh sesama wanita? Duan tidak akan mengerti warna gaun atau perhiasan yang cocok untukmu.”“Tapi enggak sama Diah!” tegasku.“Jangan memicu drama kekanak-kanakan, atau saya batalkan rencana kita ke rumah lelang,” ancam Arthur. Intonasinya berubah rendah, sarat akan otoritas yang
Kalimatku membuat Arthur membeku. Kuncian jemarinya pada tengkukku sedikit mengendur, bersama wajahnya yang satu sentimeter menjauh. Tidak lebih dari itu, sorot matanya tidak menujukan kemarahan, dan tak ada makian kasar yang keluar dari bibirnya. Padahal aku sudah mengetatkan rahangku mempersiapkan diri untuk reaksi murka Arthur atas penawaran nekat yang baru saja aku tawarkan.Hanya butuh jeda singkat sebelum raut datarnya berubah. Kekehan pelan yang bernada mengejek meluncur dari bibirnya. Manik mata yang masih diselimuti kabut alkohol itu kini menatapku tajam. Keheranan yang sempat membuatnya membeku kini berubah menjadi ketertarikan liar pada tantangan yang disodorkan. Pria siap membeli permainanku.“Menjual daya tarikmu untuk bertransaksi dengan saya?” bisik Arthur rendah, sempat menggetarkan nyali yang susah payah aku pertahankan. “Sebutkan harganya, Cassidy.”“Bawa aku ke Rumah Lelang Larasati,” pintaku tegas tanpa mengedipkan mata, menjaga intonasinya agar tetap dingin dan ta
Sudah lewat tengah malam dan pikiran tentang Kompas Hyade di dalam daftar barang lelang terus menjagaku dari rasa kantuk. Rasa ragu sempat menyelinap saat memikirkan cara supaya bisa ikut Arthur ke acara lelang itu. Acara itu pasti dihadiri oleh orang-orang penting negara ini, termasuk Prabu Digdaya. Arthur jelas tidak akan membiarkanku berada di tempat terbuka yang membahayakan nyawaku.Namun, semakin aku berpikir, semakin aku yakin bahwa kompas itu bisa menuntunku pada astrolab. Bahkan mungkin, ada petunjuk mengenai hilangnya Papa. Apapun resikonya, aku harus ikut.Kaki telanjangku menapakkan langkah di marmer dingin ruang tengah. Aku sudah tahu harus ke mana mencari Arthur selarut ini. Arthur dan minibar di tengah malam memang tidak bisa dipisahkan. Pria itu biasa duduk berlama-lama di bawah remangnya lampu minibar yang menggantung rendah.Punggung tegap Arthur menyambutku ketika aku menginjakkan kaki di area bar. Di tangannya botol wiski yang hampir habis digenggam erat. Tanpa ge
Sensasi dingin menjalar dari ujung jemari hingga ke dasar tengkuk. Diah, gadis muda yang begitu telaten merawatku dengan senyum lembutnya ternyata adalah eksekutor lapangan berdarah dingin. Jika aku membandingkan garis waktu kabar kematian Rajh di berita dengan hari di mana aku bertemu Diah, sungguh mengerikan membayangkan bahwa dia baru saja merenggut nyawa seseorang.Malam itu, setelah seharian aku dikurung Arthur di ruang arsip museum, Diah menyambutku dengan secangkir teh hangat dan memastikan aku nyaman di kamar tamu. Senyum ramahnya, benar-benar menipuku. Rasa mual mendadak mengocok perutku.Derap langkah salah satu pengawal Arthur yang melintas di koridor area servis membuyarkan lamunanku. Suara pintu yang tertutup menandakan ia masuk ke salah satu ruangan. Aku tidak boleh ketahuan.Dengan napas tersengal yang kutahan sekuat tenaga, kumatikan layar ponsel itu. Kubersihkan sidik jariku pada kain kemeja, mengembalikan ponsel dan vial obat ke dalam kotak karton, lalu menyelipkanny







