"Terima kasih sudah kembali," ucap Lyra dengan suara bergetar rendah, sebuah kalimat tulus yang jarang keluar dari bibir wanita yang biasanya selalu berdebat dengan Hans tersebut.Lidah tajam yang biasanya memenuhi lorong-lorong Kastil Drakenhoff kini melunak, menyisakan kejujuran mentah seorang gadis yang telah terkuras habis oleh ketakutan selama berhari-hari.Hans tertegun mendengarnya, menatap siluet Lyra yang tampak begitu rapuh di bawah temaram cahaya lilin kamar perawatan yang kian meredup."Aku berjanji padamu akan pulang, bukan?" sahut Hans, suaranya parau seraya mencoba menegakkan punggungnya, menahan perih yang menusuk rongga dada akibat geseran tulang rusuknya yang patah."Jangan memaksakan diri, bodoh. Jahitan Kael bisa robek jika kau terus bersikap keras kepala," tegur Lyra, meski tangannya bergerak lembut membantu mengganjal punggung sang ksatria dengan bantal jerami ekstra.Hans menarik napas pendek yang menyiksa, matanya menatap lurus pada dinding batu kuno di hadapan
Magbasa pa