"Am-ampun, Lord Duke. Kami hanya memikirkan kestabilan logistik benteng," rintih Kenneth, suaranya melengking tinggi, pecah oleh kepanikan yang luar biasa.Suasana aula dewan berubah menjadi pengadilan taktis yang mencekam. Tanpa membuang waktu, Valerius langsung merebut draf petisi dari tangan Kenneth yang gemetar hebat.Gerakannya begitu cepat dan bertenaga. Dengan satu sentuhan kasar, ia meremas perkamen itu lalu melemparkannya ke dalam perapian yang menyala di sisi takhta. Kertas tebal itu seketika dilalap api, berubah menjadi abu hitam dalam hitungan detik."Kestabilan logistik, katamu?" desis Valerius, matanya menyipit laksana mata serigala lapar. "Atau kau hanya memanfaatkan kesempitan saat aku bertaruh nyawa di Puncak Hitam untuk menindas istriku?!""Tidak, Yang Mulia! Hamba tidak bermaksud—""Tutup mulutmu, Kenneth!" bentak Valerius, suaranya menggelegar hingga membuat debu di pilar-pilar kuno berjatuhan.Di hadapan para mente
Ler mais