"Rasakan itu, penyihir terkutuk!" napas Valerius berdesis di antara sela giginya yang berdarah, memandang lurus pada cairan pekat yang mulai membasahi altar.Menyaksikan musuh bebuyutannya terluka dan meneteskan darah hitam ke atas lumut purba, Valerius menyunggingkan senyum tipis yang dingin di sudut bibirnya. Rasa sakit di dadanya seolah menguap, digantikan oleh kepuasan instingtif seorang pemburu yang berhasil mengunci mangsanya.Di kepalanya, memori masa lalu yang telah lama terkubur mendadak berputar dengan sangat jelas, ia teringat kembali petuah kuno dan ucapan dari kakeknya, penguasa Drakenhoff terdahulu, saat mereka berdiri di ruang persenjataan kastil puluhan tahun silam.Saat itu, bau minyak pelumas pedang dan debu sejarah memenuhi ruangan, sementara sang kakek menatapnya dengan mata yang sarat akan beban masa lalu.“Dengar, Valerius kecil,” gema suara sang kakek terngiang di sela deru angin jurang, “satu-satunya cara menghentikan sihir hitam abadi adalah dengan menghunus j
Read more