"Hari ini mulai jualan, doakan laris dan habis ya, Nak," ujar ibu saat aku dan Amy membantunya menyiapkan bahan jualan di depan kontrakan. "Aamiin. Kami selalu mendoakan yang terbaik buat ibu," ujarku diiringi anggukan Amy. "Jangan sedih lagi ya, Bu. Lupakan bapak dan fokus membuka lembaran baru." Ibu mengangguk lalu tersenyum menatapku dan Amy. Nasi di termos sedang sudah kuletakkan di meja. Beberapa kotak berisi lauk, telur balado, potongan telur goreng, tempe kering, bihun goreng, kerupuk dan beberapa macam gorengan pun telah siap. Meja bekas di samping kontrakan itu masih bisa difungsikan dengan baik. Terlebih saat kupasang stiker di atasnya, terlihat baru dan enak dilihat. "Kalau jualan hari ini laris, InsyaAllah besok kita tambahi porsinya." "Iya, Bu. Kami siap membantu ibu," ujar Amy penuh semangat. "Minggu depan kamu ujian, Nak. Belajar saja biar Mbak Zizi yang bantu-bantu ibu di dapur.""Benar kata ibu, Dek. Kamu harus rajin belajar biar nilainya maksimal dan bisa masuk
Read more