Guntur menggelegar di atas langit Amborgio, suaranya merambat melalui dinding-dinding batu istana yang kokoh. Di dalam kamarnya, Petra berdiri mematung di dekat jendela, melihat kilat menyambar yang menerangi kegelapan sesaat demi sesaat. Aroma tanah basah dan udara dingin merembes masuk, namun suasana di dalam ruangan itu jauh lebih mencekam.BRAK!Pintu kamar terbuka dengan hantaman keras. Petra berbalik cepat, tangannya secara refleks meraih pinggiran meja. Di ambang pintu, Viel berdiri dengan seragam yang berantakan. Rambutnya basah oleh hujan, dan napasnya berbau alkohol yang tajam berpadu dengan aroma besi. Matanya merah, bukan karena mabuk sepenuhnya, melainkan karena kelelahan dan amarah yang nyaris meledak.Viel melangkah maju, gerakannya tidak stabil namun tetap mengancam. "Kau pikir aku bodoh, Petra?" suaranya rendah, serak, dan penuh racun.Sebelum Petra sempat menjawab, Viel sudah berada di depannya. Dengan satu gerakan cepat, ia menghimpit Petra ke dinding dingin, mengur
Magbasa pa