Dalam malam dengan cahaya bulan yang bersinar terang, seseorang dengan jubah pelayan sedang berjalan menyusuri koridor sendirian. Langkahnya pelan, menunduk, namun terlalu anggun untuk dikatakan pelayan biasanya. Itu adalah Petra, dia menyusuri jalanan dari kediaman Amborgio utama tempat dimana kamarnya ada sampai ke paviliun tempat seseorang yang ingin dia temui malam ini. Berbekal dengan arah yang ditunjukkan oleh Elias, Petra bisa berjalan sejauh ini tanpa tersesat. “Bagus sekali, kalau lurus begini, aku tidak perlu pusing-pusing mencari jalan ke paviliun,” gumam Petra sambil menarik tudungnya agar wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Langkah kaki telanjang itu berjalan tanpa suara, menapaki lantai sampai berubah menjadi rumput karena dia melewati taman yang malam. Akhirnya, dia sampai di paviliun yang ditunjukkan oleh Elias. Kepalanya mendongak, memastikan, tetapi tangannya tetap memegangi tudung dan jubah itu agar tidak melorot. “Jadi, disini paman Kael tinggal sekarang?” Guma
Baca selengkapnya