"Katakan padaku, Petra. Apakah kau baru saja menjual nyawaku, atau kau baru saja menyelamatkannya?”Petra menelan ludahnya. Bohong jika Petra tidak takut dengan posisinya sekarang. Meski dia bilang dia tidak takut diancam nyawanya, tapi membayangkan pedang yang begitu lancip dan mulus itu diayunkan untuk menebas kepalanya oleh orang—yang bisa menebas tanpa menimbulkan suara bising—ini benar-benar membuatnya gugup dan mematung. Belum mendapatkan jawaban, Viel menekan pedang itu lebih dalam, menatap Petra dengan ancaman yang nyata. Matanya seolah mengatakan bahwa Viel tidak benar-benar lumpuh dengan cinta, dia adalah orang yang membenci pengkhianatan. “Katakan, Petra,” desis Viel dengan tatapan tajam. “A—aku,” Petra menarik napasnya, mencoba berbicara dengan tenang. Dia sadar bahwa salah kata saja nyawanya bisa melayang dengan mudahnya. “Aku tidak berbicara kepadanya dengan menjual nyawamu,” lanjutnya dengan tenang. Viel diam. Tatapan tajam sang pemilik Amborgio itu belum lepas se
Baca selengkapnya