"Kamu jangan gila, Satria! Sembarangan banget mulut kamu," tegur Vera setengah berbisik sambil melotot. "Ini acara kelas atas. Semua barang yang dilelang di sini udah lewat proses kurasi ketat sama pakar seni dan sejarah. Kamu tahu dari mana coba itu barang palsu? Lulusan sarjana sejarah aja bukan."Satria terkekeh pelan mendengar omelan bosnya. Preman terminal ini sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh embel embel 'pakar seni' atau 'acara kelas atas'."Saya emang bukan sarjana, Non. Tapi mata saya masih sehat," jelas Satria dengan nada tenang. Dia menunjuk ke arah layar proyektor dengan dagunya."Dulu, guru silat saya waktu di desa punya guci yang persis banget kayak gitu. Motif naga emasnya, bentuk lekukannya, semuanya persis sama. Guru saya bilang itu emang barang warisan turun temurun peninggalan zaman kerajaan," cerita Satria serius.Vera mengerutkan kening, mulai tertarik mendengarkan. "Terus? Kalau persis sama, berarti yang di depan itu asli juga kan?""Beda, Non," poton
Read more