Jalanan sepi itu ditinggalkan begitu saja oleh Satria. Dia sama sekali tidak peduli dengan nasib empat pembunuh bayaran elit yang sedang pingsan menumpuk di aspal. Biar saja mereka diurus oleh warga besok pagi.Alih-alih mencari taksi atau menelepon bala bantuan, Satria malah memilih berjalan kaki. Jarak dari lokasi kejadian ke rumah mewah Vera di Menteng sebenarnya lumayan jauh. Tapi bagi pendekar gunung yang terbiasa mendaki tebing curam setiap hari, berjalan di atas trotoar aspal ini rasanya hanya seperti jalan-jalan santai di taman.Satria berjalan sambil bersiul pelan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sesekali dia berhenti sebentar untuk melihat-lihat lampu jalanan kota yang masih menyala terang. Perjalanannya memakan waktu cukup lama, hingga jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan lewat tengah malam.Begitu sampai di depan gerbang rumah keluarga Vera, Satria melihat pemandangan yang tidak biasa. Lampu ruang tamu dan teras depan menyala sangat terang bender
Baca selengkapnya