Satria mengambil potongan martabak manis dari piring yang disodorkan Laras tanpa ragu. Rasa manis cokelat dan taburan kacang yang gurih langsung memanjakan lidahnya setelah seharian ini dipenuhi ketegangan urusan korporat.Setelah menelan kunyahannya, Satria menatap Laras dengan pandangan penuh rasa syukur, lalu melirik Kiki yang masih melipat tangan dengan wajah cemberut."Makasih ya, Ras," kata Satria sambil mengunyah potongan kedua. Pemuda itu menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari lubang jarum. "Kalau dipikir-pikir, sepertinya cuma kamu yang waras di rumah ini, Ras."Mendengar pujian yang sangat jarang ia dapatkan itu, Laras langsung membusungkan dadanya dengan bangga. Tawa renyahnya pecah seketika, membuat beberapa remahan martabak hampir saja jatuh dari mulutnya."Nah, kan! Akhirnya Mas Satria sadar juga!" seru Laras dengan nada penuh kemenangan. Dia menoleh ke arah Kiki dengan pandangan mengejek. "Dengar itu, Kiki? Selama ini aku selalu dituduh paling berisik dan b
Última actualización : 2026-06-19 Leer más