Azzam menatap Hana lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan, suaranya tenang tapi tegas. “Kita fokus ke pernikahan kita, Hana.” Hana mengangguk pelan. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan—hanya penerimaan yang masih diselimuti sisa luka yang belum sepenuhnya reda. “Ayo masuk,” lanjut Azzam sambil bangkit dari kursi. Ia mengulurkan tangan ke arah Hana. “Kamu jangan kelihatan rapuh di depan Abi dan Umi. Mereka akan terluka kalau melihat kamu seperti ini.” Hana menatap tangan itu sejenak. Tangan yang tidak memaksa, tapi menawarkan sandaran. “Baik,” jawabnya singkat. Suara itu terdengar stabil di luar, tetapi di dalam dirinya masih ada gemuruh yang belum selesai. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan meraih tangan Azzam. Mereka berdiri bersamaan. Langkah mereka menuju pintu terasa lebih berat daripada saat mereka keluar tadi. Begitu memasuki rumah, suasana yang sempat panas sebelumnya kini masih menyisakan ketegangan. Ahmad dud
อ่านเพิ่มเติม