Perlahan Aruna merasakan hatinya membeku begitu saja. Ia semakin jijik menatap kemesraan dua orang di depannya."Mas, tisu dong. Lengket nih muka aku kena bedak luntur," pinta Lina santai.Bram dengan sigap mengambil kotak tisu. "Nih. Kamu nggak apa-apa kan, Sayang? Tadi jatuhnya kekencengan nggak?""Sakit tau, Mas. Lututku ngilu. Tapi ya mau gimana lagi? Kalau aku nggak akting gitu, si Aruna udah pasti lari ke pengadilan agama. Kamu mau pangkat kamu melayang?""Kalian bener-bener sakit jiwa," desis Aruna pelan, namun cukup tajam untuk membuat hening seisi mobil.Lina tertawa kecil dari kursi depan. "Aruna, Aruna. Kamu tuh yang harusnya sadar diri. Kamu malah buat dirimu makin viral."Aruna menoleh, menatap wajah Lina yang tersenyum miring. "Kamu puas, Lin, bikin hidup aku hancur?""Aku nggak berniat ngancurin kamu, kok. Aku cuma nyelamatin keluarga kita," sanggah Lina cepat. "Sekarang gini deh, kita pake logika aja. Nama kamu udah jelek, Run. Di mata orang-orang, kamu itu istri yang
Last Updated : 2026-02-26 Read more