Share

Dimadu 5

Penulis: Noivella
last update Tanggal publikasi: 2026-02-08 10:13:10

Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.

Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.

Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.

Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.

Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna.

***

"Astaga, Aruna!”

Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya.

“Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi.

Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.

Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat.

"Minum dulu. Pelan-pelan,” kata Ratna sambil menyodorkan segelas teh hangat.

Aruna meneguk teh itu dengan tangan gemetar. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya, sedikit meredakan rasa perih di hatinya, meski rasa nyeri di perut bekas operasi masih menyengat tajam.

"Sekarang cerita," tuntut Ratna setelah napas Aruna mulai teratur. Ratna duduk di karpet, menatap lurus ke manik mata Aruna. "Kenapa lo bisa ada di sini sendirian? Bram mana?”

Mendengar nama suaminya disebut, perasaan Aruna kembali bercampur. Aruna pun tidak dapat menahan air matanya. Setelah menarik napas panjang, Aruna mulai menceritakan segalanya meski suaranya tersendat.

Ratna mendengarkan tanpa berkedip. Awalnya wajahnya menunjukkan ekspresi kaget, lalu berubah menjadi bingung, dan akhirnya merah padam karena amarah yang meledak-ledak.

"Gila! Sinting! Itu laki apa setan?!" teriak Ratna berapi-api.

Ratna berdiri, mondar-mandir di ruang tamu dengan napas memburu. "Gue nggak nyangka Bram bisa sebiadab itu! Dan Lina? Wah, itu perempuan bener-bener nggak punya otak! Ibaratnya air susu dibalas air comberan.”

"Nggak… Ini semua salah aku, Na.”

"Stop. Berhenti nyalahin diri sendiri!" bentak Ratna tegas. Dia kembali duduk di samping Aruna, mencengkeram bahu sahabatnya itu. "Dengerin gue baik-baik, Aruna. Lo itu bukan sibuk foya-foya. Lo kerja banting tulang buat biayain dia pendidikan! Bahkan semua kebutuhan dia, lo yang tanggung.”

"Tapi, Lina selalu ada buat dia, Na," cicit Aruna lemah. "Kata Bram, Lina ngasih ketenangan ...."

"Ketenangan pale lo kotak!" potong Ratna kasar. "Itu namanya manipulasi, Run! Bram itu cuma laki-laki egois yang nggak tahu diuntung. Lina itu uler.”

Ratna menatap Aruna sinis, lalu menggelengkan kepala. "Lagian Jin Dasim lo pelihara," cibir Ratna pedas.

Aruna mengernyit, bingung dengan istilah itu di tengah kesedihannya. "Jin Dasim?"

"Iya, Jin Dasim! Itu setan yang tugasnya buat misahin suami istri, yang bikin rumah tangga hancur lebur. Lina itu wujud manusianya, Run! Dia bukan cuma ngambil suami lo, dia ngambil nyawa anak lo juga secara nggak langsung!"

Aruna masih mendengarkan Ratna ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah notifikasi dari mobile banking muncul di layar. Aruna membukanya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak kaget.

"Ratna …," panggil Aruna, suaranya tercekat.

"Kenapa lagi? Bram minta maaf?" tanya Ratna sinis.

Aruna menggeleng lemah, menunjukkan layar ponselnya pada Ratna. Ada notifikasi transfer keluar dari rekening gabungan mereka.

Ratna membaca itu dan tertawa, tawa yang terdengar mengerikan karena saking marahnya.

"Wah, hebat bener suami lo. Duit istri sah dipake buat modal lahiran selingkuhan sama beli mobil baru."

Aruna meremas ponselnya. Hatinya sakit, tapi rasa takut kehilangan Bram masih menghantuinya. Aruna terbiasa mengalah. Aruna juga sudah terbiasa melindungi Bram.

"Tapi, mungkin Bram butuh banget, Na. Lina kan mau lahiran." ucap Aruna lirih, mencoba mencari pembenaran. "Itu anak Bram juga."

"Astaga, Aruna!" Ratna menepuk jidatnya sendiri, raut wajahnya terlihat begitu frustrasi dengan kebodohan sahabatnya. "Lo masih mikirin nasib anak pelakor itu? Bram kan polisi, gini aja deh, lo mending laporin dia! Kita ke Propam besok!”

Wajah Aruna memucat. Ia menggeleng cepat.

"Jangan, Na! Kasihan Mas Bram. Dia susah payah masuk polisi. Kalau dilaporin, karirnya bisa hancur. Nanti hidupnya bagaimana?"

Ratna menatap sahabatnya tak percaya. Mulutnya menganga. "Lo serius ngomong gitu?"

"Tapi dia suamiku, Na. Aku masih sayang sama dia," cicit Aruna jujur, meski menyakitkan.

Aruna melihat tatapan sahabatnya itu melunak. Barangkali Ratna juga mengerti perasaan wanita. Aruna memang tersakiti, namun ia masih ingin berpegang pada setitik harapan lagi.

Ratna perlahan mendekati Aruna dan memegang tangan Aruna yang seperti tak berhenti gemetar. “Oke, Aruna, jadi mau lo sekarang gimana?”

“Aku … aku ingin cari kerja lagi, Na,” ucap Aruna pelan. “Aku boleh numpang satu hari di sini, Na? Aku janji akan bayar semuanya-”

Ratna menggeleng dan tersenyum. “Santai aja, Aruna. Lo boleh kesini kapanpun!”

“Tapi aku nggak mungkin terus-terusan nyusahin kamu. Aku akan cari kerjaan besok pagi, ya.”

“Tenang, Run,” sahut Ratna yakin. “Gue punya kenalan!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 19

    "Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 18

    "Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 17

    "Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 16

    "Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 15

    "Aku emang perempuan bodoh," racau Lina di sela isaknya. "Harusnya aku sadar diri dari dulu kalau aku ini cuma benalu. Harusnya aku nggak usah muncul lagi di kehidupan Mas Bram biar kamu nggak semarah ini. Maafin aku, Aruna ... aku pantes mati aja sekalian sama bayi ini ...."Bram yang berdiri tak jauh dari sofa tampak frustrasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Aruna dengan sorot memelas sekaligus menuntut."Kamu denger sendiri, kan, Run? Lina udah ngaku salah. Dia nyesel. Jangan keras kepala terus, kasihan dia lagi hamil tua. Turunin sedikit ego kamu," bujuk Bram.Aruna yang masih bersandar di dinding hanya menatap adegan di depannya dengan wajah datar. Tidak ada sebersit pun rasa iba di matanya. Hatinya sudah sedingin es."Udah selesai dramanya?" tanya Aruna tenang, memecah tangisan Lina yang sengaja dibuat-buat. "Kalau udah, sekarang giliran aku yang ngomong."Lina menghentikan isaknya sejenak, mengintip dari sela jari-jarinya."Dengerin baik-baik, karena aku nggak a

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 14

    "Ceraiin dia sekarang, Mas! Aku nggak sudi serumah sama orang gila kayak dia! Liat tuh baju dinas kamu, Mas! Liat baju sutra aku! Semuanya hancur!"Teriakan histeris Lina menyambut kedatangan Bram yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah. Napas pria itu memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia baru saja melihat pemandangan horor di selokan belakang rumah. Bram menatap Aruna yang duduk tenang di sofa sambil membolak-balik majalah lama, seolah tidak terjadi apa-apa."Aruna!" Suara Bram bergetar menahan amarah yang meluap. "Kamu sadar nggak apa yang udah kamu lakuin? Itu atribut negara! Kamu bisa dipidana karena melecehkan simbol institusi!"Aruna menutup majalahnya perlahan, lalu menatap Bram dengan tatapan bosan."Simbol institusi? Bukannya itu cuma kain pel buat kamu selingkuh? Lagian, aku cuma nyuciin kok. Kan, Lina minta bajunya bersih, ya udah aku bersihin sebersih-bersihnya dari dosa kalian.""Mas! Denger, kan, mulutnya?!" Lina menghentak-hentakkan kakinya ke lanta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status