Se connecterAruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.
Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna. Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak. Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya. Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. *** "Astaga, Aruna!” Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham. Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat. "Minum dulu. Pelan-pelan,” kata Ratna sambil menyodorkan segelas teh hangat. Aruna meneguk teh itu dengan tangan gemetar. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya, sedikit meredakan rasa perih di hatinya, meski rasa nyeri di perut bekas operasi masih menyengat tajam. "Sekarang cerita," tuntut Ratna setelah napas Aruna mulai teratur. Ratna duduk di karpet, menatap lurus ke manik mata Aruna. "Kenapa lo bisa ada di sini sendirian? Bram mana?” Mendengar nama suaminya disebut, perasaan Aruna kembali bercampur. Aruna pun tidak dapat menahan air matanya. Setelah menarik napas panjang, Aruna mulai menceritakan segalanya meski suaranya tersendat. Ratna mendengarkan tanpa berkedip. Awalnya wajahnya menunjukkan ekspresi kaget, lalu berubah menjadi bingung, dan akhirnya merah padam karena amarah yang meledak-ledak. "Gila! Sinting! Itu laki apa setan?!" teriak Ratna berapi-api. Ratna berdiri, mondar-mandir di ruang tamu dengan napas memburu. "Gue nggak nyangka Bram bisa sebiadab itu! Dan Lina? Wah, itu perempuan bener-bener nggak punya otak! Ibaratnya air susu dibalas air comberan.” "Nggak… Ini semua salah aku, Na.” "Stop. Berhenti nyalahin diri sendiri!" bentak Ratna tegas. Dia kembali duduk di samping Aruna, mencengkeram bahu sahabatnya itu. "Dengerin gue baik-baik, Aruna. Lo itu bukan sibuk foya-foya. Lo kerja banting tulang buat biayain dia pendidikan! Bahkan semua kebutuhan dia, lo yang tanggung.” "Tapi, Lina selalu ada buat dia, Na," cicit Aruna lemah. "Kata Bram, Lina ngasih ketenangan ...." "Ketenangan pale lo kotak!" potong Ratna kasar. "Itu namanya manipulasi, Run! Bram itu cuma laki-laki egois yang nggak tahu diuntung. Lina itu uler.” Ratna menatap Aruna sinis, lalu menggelengkan kepala. "Lagian Jin Dasim lo pelihara," cibir Ratna pedas. Aruna mengernyit, bingung dengan istilah itu di tengah kesedihannya. "Jin Dasim?" "Iya, Jin Dasim! Itu setan yang tugasnya buat misahin suami istri, yang bikin rumah tangga hancur lebur. Lina itu wujud manusianya, Run! Dia bukan cuma ngambil suami lo, dia ngambil nyawa anak lo juga secara nggak langsung!" Aruna masih mendengarkan Ratna ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari mobile banking muncul di layar. Aruna membukanya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak kaget. "Ratna …," panggil Aruna, suaranya tercekat. "Kenapa lagi? Bram minta maaf?" tanya Ratna sinis. Aruna menggeleng lemah, menunjukkan layar ponselnya pada Ratna. Ada notifikasi transfer keluar dari rekening gabungan mereka. Ratna membaca itu dan tertawa, tawa yang terdengar mengerikan karena saking marahnya. "Wah, hebat bener suami lo. Duit istri sah dipake buat modal lahiran selingkuhan sama beli mobil baru." Aruna meremas ponselnya. Hatinya sakit, tapi rasa takut kehilangan Bram masih menghantuinya. Aruna terbiasa mengalah. Aruna juga sudah terbiasa melindungi Bram. "Tapi, mungkin Bram butuh banget, Na. Lina kan mau lahiran." ucap Aruna lirih, mencoba mencari pembenaran. "Itu anak Bram juga." "Astaga, Aruna!" Ratna menepuk jidatnya sendiri, raut wajahnya terlihat begitu frustrasi dengan kebodohan sahabatnya. "Lo masih mikirin nasib anak pelakor itu? Bram kan polisi, gini aja deh, lo mending laporin dia! Kita ke Propam besok!” Wajah Aruna memucat. Ia menggeleng cepat. "Jangan, Na! Kasihan Mas Bram. Dia susah payah masuk polisi. Kalau dilaporin, karirnya bisa hancur. Nanti hidupnya bagaimana?" Ratna menatap sahabatnya tak percaya. Mulutnya menganga. "Lo serius ngomong gitu?" "Tapi dia suamiku, Na. Aku masih sayang sama dia," cicit Aruna jujur, meski menyakitkan. Aruna melihat tatapan sahabatnya itu melunak. Barangkali Ratna juga mengerti perasaan wanita. Aruna memang tersakiti, namun ia masih ingin berpegang pada setitik harapan lagi. Ratna perlahan mendekati Aruna dan memegang tangan Aruna yang seperti tak berhenti gemetar. “Oke, Aruna, jadi mau lo sekarang gimana?” “Aku … aku ingin cari kerja lagi, Na,” ucap Aruna pelan. “Aku boleh numpang satu hari di sini, Na? Aku janji akan bayar semuanya-” Ratna menggeleng dan tersenyum. “Santai aja, Aruna. Lo boleh kesini kapanpun!” “Tapi aku nggak mungkin terus-terusan nyusahin kamu. Aku akan cari kerjaan besok pagi, ya.” “Tenang, Run,” sahut Ratna yakin. “Gue punya kenalan!”"Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam
"Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s
Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp
Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R
“Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A
Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t







