Share

Dimadu 2

Auteur: Noivella
last update Dernière mise à jour: 2026-02-08 08:46:48

"Bu? Bu Aruna? Bisa denger suara saya?"

Suara itu terdengar jauh. Kelopak mata Aruna terasa berat, direkatkan oleh sisa air mata yang mengering.

Bau obat-obatan yang menyengat langsung menusuk hidung begitu ia pekasakan untuk membuka matanya. Cahaya lampu neon putih di langit-langit menyilaukan pandangannya, memaksanya mengerjap beberapa kali.

"Su ... suster?" panggil Aruna parau. Tenggorokannya terasa kering dan sakit, seperti baru saja menelan pasir.

Seorang perawat dengan seragam putih tersenyum tipis Perawat itu mengecek cairan infus yang menancap di punggung tangan kiri Aruna.

"Syukurlah Ibu sudah sadar. Jangan banyak gerak dulu ya, Bu. Tensi Ibu masih rendah sekali," ujar perawat itu lembut.

Kesadaran Aruna perlahan pulih. Ingatan terakhirnya menghantam benaknya seperti ombak besar. Refleks, tangan Aruna meraba perutnya.

Kembung keras yang biasanya ia rasakan selama tujuh bulan terakhir sudah tidak ada. Perutnya kini terasa lembek dan datar, hanya dibebat oleh kain gurita yang kencang.

Jantung Aruna berpacu gila-gilaan. Alat monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.

"Sus... anak saya mana?" tanya Aruna panik. Ia meraba perutnya yang tidak mengembung lagi. Suaranya bergetar hebat. "Anak saya udah lahir? Apa dia di inkubator, Sus?"

Perawat itu terdiam. Dia menunduk, menghindari tatapan mata Aruna yang penuh harap.

Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang dokter pria masuk dengan wajah muram. Di belakangnya, berdiri sosok yang sangat Aruna rindukan sekaligus takuti, Bram.

Bram masih mengenakan kaos oblong putihnya. Wajah kusut, rambutnya acak-acakan. Bram berdiri bersandar di dinding dekat pintu, kedua tangannya bersedekap di dada. Wajahnya datar, tidak ada guratan kekhawatiran seorang suami.

"Dokter ...." Aruna mengabaikan sikap dingin suaminya. Fokusnya hanya satu. "Anak saya mana, Dok? Tolong bilang dia baik-baik aja."

Dokter itu menghela napas panjang, lalu berdiri di samping ranjang Aruna. Dia menatap Aruna dengan sorot penyesalan mendalam.

"Ibu Aruna yang tabah, ya," ucap dokter itu pelan, sangat hati-hati. "Ibu datang ke sini dalam kondisi shock karena pendarahan hebat. Plasenta lepas sebelum waktunya akibat tekanan darah yang melonjak drastis dan stres akut. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu. Tapi janin tidak bisa diselamatkan karena terlalu lama kekurangan oksigen di dalam kandungan."

Dunia Aruna berhenti berputar. Suara denging di telinganya kembali muncul, kali ini lebih nyaring.

"Meninggal ...?" bisik Aruna. Air mata kembali mengalir deras tanpa suara. "Anak saya ... meninggal?"

"Maafkan kami, Bu," tambah dokter itu sebelum menepuk pelan bahu Aruna dan pamit keluar ruangan, memberi ruang privasi bagi suami istri itu.

Aruna menatap langit-langit kamar rawat inap dengan pandangan kosong. Hatinya hancur berkeping-keping. Anak yang dia nantikan selama lima tahun. Kini pergi karena ibunya tidak becus menjaganya.

"Mas ...." Aruna menoleh ke arah Bram. Suaranya pecah oleh isak tangis. "Anak kita, Mas ... dia udah nggak ada."

"Ya, aku dengar," jawab Bram singkat, dingin.

Aruna menangis semakin keras. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ini salahku ya, Mas?"

Aruna memperhatikan Bram yang berjalan mendekat, tapi langkahnya terlihat malas. Dia berdiri di samping ranjang, menatap Aruna penuh penghakiman

"Memang salah kamu, Run," ucap Bram tanpa ragu. "Kalau kamu nggak bikin drama, kamu nggak akan stres sampai tensi kamu naik. Dan anak itu nggak bakal meninggal begitu aja."

Kata-kata Bram menancap tepat di ulu hati Aruna. Rasa bersalah itu langsung mencekik lehernya. Aruna percaya. Dia percaya bahwa dia adalah pembunuh anaknya sendiri.

"Maafin aku, Mas ...," isak Aruna, tangannya gemetar meraih ujung kaos Bram, memohon ampun. "Maafin aku ... aku istri yang bodoh ... aku ibu yang jahat. Harusnya aku nurut sama kamu ... harusnya aku nggak egois."

Bram membiarkan Aruna menangis di bajunya sebentar, lalu menarik kaosnya pelan seolah risih.

"Udah, nggak usah nangis. Anak itu udah nggak ada, percuma."

"Mas, jangan tinggalin aku ...." Aruna menatap Bram dengan mata bengkak. "Aku takut sendirian di sini, Mas. Temenin aku ya? Kita kubur anak kita bareng-bareng ya besok pagi?"

Bram mendecak. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar.

"Nggak bisa," tolak Bram cepat. "Aku harus pulang sekarang."

"Pulang?" Aruna ternganga. "Mas temenin aku, Mas. Aku mohon ...."

"Lina juga syok, Aruna!" sentak Bram, membuat nyali Aruna menciut lagi. "Lina itu lagi hamil tua. Aku nggak bisa ninggalin Lina cuma buat nungguin kamu nangis di sini."

"Tapi Mas ... jenazah anak kita ...."

"Urusan jenazah, biar orang rumah sakit yang urus. Atau kamu telepon keluarga kamu. Aku udah bayar lunas biaya rumah sakit kamu, itu udah cukup, kan, tanggung jawabku?" Bram memasukkan ponselnya kembali ke saku.

"Mas ...." Aruna masih berusaha menahan tangan suaminya. “Aku ini istrimu, Mas!”

Bram menepis tangan Aruna kasar. Wajahnya menunjukkan kejengkelan yang memuncak.

"Lina udah telepon terus, katanya perutnya sakit lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Lina gara-gara aku ngurusin kamu, aku nggak bakal maafin kamu seumur hidup!"

Bram berbalik badan, melangkah cepat menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Punggung tegap yang dulu selalu Aruna peluk, kini terasa begitu asing dan jauh.

Aruna ditinggalkan sendirian.

Saat tangan Bram menyentuh gagang pintu, dia berhenti sejenak, tapi bukan untuk memberi kata-kata penghiburan.

"Oh iya, satu lagi. Jangan telepon aku malam ini. Aku matiin HP biar Lina bisa istirahat tenang. Kamu sadar diri, jangan ganggu.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 8

    "Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 7

    "Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 6

    Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 5

    Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 4

    “Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 3

    Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status