Share

Dimadu 6

Auteur: Noivella
last update Dernière mise à jour: 2026-02-24 14:36:54

Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”

"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."

Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu.

***

Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu.

Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.

Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang.

Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni sempat membagi bekal makan siangnya.

Seminggu berlalu. Aruna mulai merasa nyaman. Gajinya mingguan, cukup untuk bayar kos petakan setelah pamit dari rumah Ratna dan makan nasi di warteg.

Aruna pikir, badai sudah berlalu.

Namun, rupanya ia salah.

Pada siang hari, toko sedang padat-padatnya oleh ibu-ibu seragam pengajian yang sedang memborong bahan. Aruna terpaksa turun tangan membantu melayani karena Marni dan Santi kewalahan.

Saat Aruna sedang mencatat pesanan di nota, seorang ibu-ibu berbadan subur dengan kacamata hitam di kepala tiba-tiba memekik.

"Eh, Jeng! Liat deh!" bisik ibu itu pada temannya, sambil menyodorkan ponsel. "Mbak yang layanin kita ini, mukanya mirip banget sama pelakor yang lagi viral nggak sih?"

Meski berbisik, Aruna tetap bisa mendengarnya. Namun, Aruna memilih untuk berpura-pura tidak mendengar.

Temannya menyipitkan mata, menatap Aruna dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Eh iya bener! Yang katanya ngaku istri sah padahal simpenan polisi itu kan? Yang bawa kabur duit lakinya?"

Jantung Aruna mencelos. Keringat dingin mengucur deras. Ia mencoba menunduk, menyembunyikan wajah.

"Maaf, Bu. Ini totalnya jadi sejuta dua ratus," ucap Aruna gemetar, berusaha mengalihkan topik.

"Heh, Mbak!" Ibu berbadan subur itu menepis tangan Aruna. "Nggak usah sok polos deh! Kamu Aruna kan? Yang fotonya disebar sama Bu Bhayangkari itu?"

Suara lantang itu membuat seluruh aktivitas di toko terhenti. Marni dan Santi langsung menoleh. Pelanggan lain mulai mengerubungi.

"Bukan, Bu. Ibu salah orang!" cicit Aruna panik.

"Halah, maling mana ada yang ngaku!" Ibu itu membuka galeri ponselnya, memperlihatkan foto Aruna yang disebar di media sosial. "Ini jelas muka kamu! Ih, amit-amit! Pantesan rezeki suami saya seret, ternyata saya belanja di toko yang nyimpen pelakor!"

"Saya nggak ambil uang siapa-siapa, Bu! Itu fitnah!" Aruna mundur sampai punggungnya menabrak etalase. Air matanya membendung.

"Keluarin aja Pak Haji karyawan kayak gini!" teriak pelanggan lain. "Bikin sial toko! Kita nggak sudi belanja di sini kalau ada dia!"

Keributan itu memancing Pak Haji Rahmat keluar dari ruangannya. Wajahnya tegang. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Pak Haji dengan suara baritonnya yang berwibawa.

"Ini lho, Pak Haji!" salah satu pelanggan lain tiba-tiba ikut mengompori. "Karyawan bapak ini ternyata buronan viral, Pak! Dia pelakor yang ngerusak rumah tangga orang! Pelanggan takut ketularan sial!"

Aruna yang sudah menangis gemetar di pojokan hanya bisa diam. Sementara itu Aruna melihat Pak Haji Rahmat yang menatapnya, lalu bergantian menatap para pelanggan yang emosi.

"Ibu-ibu punya bukti hukum kalau dia bersalah?" tanya Pak Haji Rahmat tenang.

"Ya buktinya di medsos itu, Pak! Lihat aja sendiri!"

"Medsos bukan pengadilan," potong Pak Haji Rahmat tegas. Ia berjalan mendekati Aruna, berdiri di sampingnya. "Aruna memang baru bekerja di sini, tapi dia jujur, rajin, dan sopan. Saya nggak peduli masa lalunya atau gosip di luaran sana. Di toko ini, yang saya nilai kinerjanya, bukan omongan tetangga."

"Lho, Pak Haji kok malah belain dia?" protes ibu-ibu itu tidak terima.

"Karena karyawan adalah tanggung jawab saya selama kerja di sini," jawabnya final. "Kalau Ibu-ibu nggak nyaman belanja karena ada Aruna, silakan cari toko lain. Rezeki sudah ada yang ngatur. Saya nggak akan pecat karyawan tanpa kesalahan yang jelas di mata saya."

Aruna mendongak, menatap Pak Haji Rahmat dengan rasa syukur yang luar biasa. Aruna merasa diselamatkan.

Para pelanggan mendengus kesal. Mereka membubarkan diri sambil mencibir, meninggalkan tumpukan kain yang belum dibayar. Toko mendadak sepi.

"Makasih, Pak Haji ... Makasih banyak." Aruna terisak, hendak mencium tangan Pak Haji tapi pria itu menarik tangannya sopan.

"Udah, kamu balik kerja aja di belakang. Jangan di depan dulu," perintah Pak Haji lembut sebelum kembali ke ruangannya.

Aruna pikir masalah selesai. Tapi ternyata, ia masih salah besar.

Begitu Pak Haji Rahmat masuk ruangan, Aruna merasakan perubahan atmosfer yang drastis.

Marni dan Santi yang duduk di meja sebelah, kini menjauhkan kursi mereka. Mereka berbisik-bisik sambil melirik sinis ke arah Aruna.

"Hebat ya," sindir Marni pelan tapi tajam. "Baru seminggu kerja udah bisa bikin Pak Haji ngusir pelanggan demi dia."

"Iya, Mbak," sahut Santi sambil memutar bola mata. "Padahal Pak Haji tuh biasanya mentingin omset lho. Tumben banget dia pasang badan. Jangan-jangan ...."

Aruna menoleh, matanya basah. "Jangan-jangan apa, Mbak?"

Marni menatap Aruna dengan tatapan jijik yang tidak ditutupi lagi.

"Ya lo pikir aja sendiri. Kita udah kerja lima tahun di sini, kalau salah dikit langsung dimarahin. Elo? Udah bikin rugi, bikin toko sepi, malah dibelain mati-matian. Pake pelet atau nawarin servis lebih ke Pak Haji di ruangannya?"

"Astaghfirullah, Mbak Marni!" Aruna berdiri, dadanya sesak bukan main. "Jaga omongannya! Beliau itu saudara dari sahabat saya dan cuma nolongin saya!"

"Halah, alesan!" cibir Santi. "Sodara apa sodara? Laki orang juga kan awalnya dibilang temen, taunya diembat juga. Ati-ati aja, Bu Hajjah galak lho. Kalau dia tau suaminya nyimpen pelakor berkedok admin di sini, abis lo!"

Aruna terduduk lemas di kursinya.

Nampaknya, pembelaan yang dilakukan percuma. Maka, Aruna hanya bisa diam sambil mengerjakan pekerjaannya.

Tiba-tiba ponsel Aruna bergetar. Sebuah notifikasi dari akun I*******m anonim menandai akun Pak Haji Rahmat dan akun gosip lokal Tanah Abang. Aruna membukanya dengan tangan gemetar.

Itu adalah video amatir yang direkam diam-diam saat kejadian tadi. Sudut video diambil dari samping, memperlihatkan Pak Haji Rahmat berdiri dekat sekali dengan Aruna.

Aruna menutup mulutnya. Di seberang meja, Aruna melirik Marni yang tengah tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya sendiri.

"Tuh kan, apa gue bilang. Udah nyebar, Run. Siap-siap aja lo dilabrak istri Pak Haji besok. Saran gue sih, mending lo pergi dari sini sebelum muka lo disiram air keras sama orang yang gedeg liat kelakuan lo."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 8

    "Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 7

    "Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 6

    Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 5

    Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 4

    “Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 3

    Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status