Share

Dimadu 3

Author: Noivella
last update publish date: 2026-02-08 10:12:20

Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja.

Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja.

Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.

***

"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan.

Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.

Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, dan

harum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambut

kusut, dan wajah pucat pasi.

Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda tidak sabar.

"Mas ...." Aruna mencoba duduk, menahan nyeri di perut bekas kuretase. "Kamu dateng?

Aku pikir kamu nggak bakal peduli."

"Aku ke sini cuma mau mastiin kamu udah keluar apa belum. Kamu tahu sendiri biaya

rumah sakit mahal dan aku harus irit," potong Bram cepat. Ia melempar sebuah tas

berisi baju ganti Aruna ke atas kasur. "Ganti baju. Administrasi udah aku lunasi semua. Jadi, nggak usah nanya-nanya lagi."

Aruna meraih tas itu dengan tangan gemetar. "Ma- makasih, Mas. Terus, jenazah anak kita

gimana? Pihak rumah sakit tanya … kita bawa pulang aja, ya, Mas?"

"Serahin sama rumah sakit aja," jawab Bram enteng tanpa beban, seolah sedang membicarakan paket kiriman barang. "Kita terima beres aja. Cari yang praktis."

Mata Aruna membelalak. Air mata kembali menggenang di pelupuknya. Bekas air mata semalam bahkan masih mengering di pipinya.

"Praktis kamu bilang?" suara Aruna tercekat. "Itu anak kita, Mas! Masa kamu nggak mau liat

wajahnya terakhir kali? Masa kamu nggak mau gendong dia ke liang lahat!?"

Bram berdecak lidah, wajahnya masam. Pria itu melangkah masuk dua langkah, lalu berkacak pinggang.

"Aku sibuk, Run. Mana sempat kalau harus repot-repot gali tanah, panas-panasan di kuburan. Buang waktu,” kata Bram dingin. “Lagian udah mati, ya, biarin aja! Semua itu

gara-gara kamu, jadi kamu yang tanggung sendiri!"

"Astaga … Cuma sebentar, Mas. Kamu tega banget!" Aruna berusaha turun dari ranjang dengan hati-hati. Ia meraih tangan Bram yang dingin. "Setengah jam aja. Tolong adzanin, biar anak kita tenang di sana. Aku tahu aku salah karena nggak bisa jaga anak kita, tapi seenggaknya kamu sebagai ayahnya anterin dia."

"Doa bisa dari mana aja. Lagian itu bayi belum punya dosa, pasti masuk surga. Kamu jangan banyak mau." Bram menunjuk jam tangannya lagi. "Lima menit. Kalau kamu belum siap, aku tinggal. Kamu bisa urus sendiri mayat itu."

Aruna terisak pelan. Pria di depannya ini sudah membatu hatinya.

Aruna pun tahu, saat ini hanya Linalah yang menjadi prioritas Bram. Akan percuma jika harus berdebat dengan sang suami.

"Iya, Mas." Aruna mengalah pada akhirnya, menyalahkan dirinya lagi. Mungkin benar kata Bram, dia terlalu merepotkan. "Aku siap-siap sekarang. Nanti aku ikut mobil kamu, ya? Kita pulang bareng?"

Bram menautkan alisnya, menatap Aruna kemudian mendengus remeh.

"Siapa yang bilang kamu boleh pulang ke rumah? Run, coba kamu pikir dengan kepalamu, deh.”

Gerakan tangan Aruna yang sedang melipat baju rumah sakit terhenti. Dia menoleh kaku.

"Maksud kamu, Mas?"

"Kamu nggak bisa balik ke rumah kita dulu," ucap Bram tegas. "Lina masih trauma liat darah kamu di karpet kemarin. Dia mual kalau inget kejadian itu. Kalau kamu muncul di sana, psikis Lina bakal keganggu. Nanti bayinya kenapa-kenapa, kayak bayimu."

"Mas?” Aruna tak menyangka kalimat itu sanggup diucapkan oleh Bram. Tapi, tenaganya tak

sanggup untuk melawan. “Terus aku harus tinggal di mana, Mas? Aku baru abis operasi. Aku butuh istirahat!"

"Ya, terserah kamu aja. Pulang ke rumah orang tuamu di kampung atau cari hotel murah. Masih punya tabungan kerja ‘kan?" sahut Bram tanpa terdengar iba sedikit pun.

Bram merogoh saku celananya, mengambil kunci mobil, lalu berbalik badan menuju pintu

keluar. Keputusannya nampak sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.

"Mas, tega banget kamu." Aruna merosot di tepi ranjang. "Aku diusir dari rumahku sendiri

pas lagi berduka? Mas, aku tahu aku salah tapi kamu nggak perlu hukum aku kayak gini!

Aku harus apa biar semuanya bisa baik-baik aja?"

Bram berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa memutar badannya.

"Bukan ngusir, tapi mencegah masalah baru. Aku mau suasana rumah kondusif buat Lina

dan Dito. Kamu itu sumber masalah sekarang,” ucapnya dingin.

Aruna mematung. Ia benar-benar tidak percaya apa yang baru saja diucapkan suaminya dari tadi.

Belum sempat Aruna menjawab lagi, Bram melanjutkan. “Kalau kamu masih mau sama aku, nurut aja."

Pria itu lalu melangkah keluar koridor, meninggalkan Aruna yang hancur lebur sendirian.

Namun, sebelum bayangannya menghilang di tikungan, Bram berteriak pelan memberikan instruksi terakhir yang mematikan harapan.

"Oh, ya, kunci rumah yang kamu pegang, titip di resepsionis. Jangan coba-coba dateng ke rumah dan jangan sampai Lina stres karena kamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 19

    "Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 18

    "Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 17

    "Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 16

    "Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 15

    "Aku emang perempuan bodoh," racau Lina di sela isaknya. "Harusnya aku sadar diri dari dulu kalau aku ini cuma benalu. Harusnya aku nggak usah muncul lagi di kehidupan Mas Bram biar kamu nggak semarah ini. Maafin aku, Aruna ... aku pantes mati aja sekalian sama bayi ini ...."Bram yang berdiri tak jauh dari sofa tampak frustrasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Aruna dengan sorot memelas sekaligus menuntut."Kamu denger sendiri, kan, Run? Lina udah ngaku salah. Dia nyesel. Jangan keras kepala terus, kasihan dia lagi hamil tua. Turunin sedikit ego kamu," bujuk Bram.Aruna yang masih bersandar di dinding hanya menatap adegan di depannya dengan wajah datar. Tidak ada sebersit pun rasa iba di matanya. Hatinya sudah sedingin es."Udah selesai dramanya?" tanya Aruna tenang, memecah tangisan Lina yang sengaja dibuat-buat. "Kalau udah, sekarang giliran aku yang ngomong."Lina menghentikan isaknya sejenak, mengintip dari sela jari-jarinya."Dengerin baik-baik, karena aku nggak a

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 14

    "Ceraiin dia sekarang, Mas! Aku nggak sudi serumah sama orang gila kayak dia! Liat tuh baju dinas kamu, Mas! Liat baju sutra aku! Semuanya hancur!"Teriakan histeris Lina menyambut kedatangan Bram yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah. Napas pria itu memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia baru saja melihat pemandangan horor di selokan belakang rumah. Bram menatap Aruna yang duduk tenang di sofa sambil membolak-balik majalah lama, seolah tidak terjadi apa-apa."Aruna!" Suara Bram bergetar menahan amarah yang meluap. "Kamu sadar nggak apa yang udah kamu lakuin? Itu atribut negara! Kamu bisa dipidana karena melecehkan simbol institusi!"Aruna menutup majalahnya perlahan, lalu menatap Bram dengan tatapan bosan."Simbol institusi? Bukannya itu cuma kain pel buat kamu selingkuh? Lagian, aku cuma nyuciin kok. Kan, Lina minta bajunya bersih, ya udah aku bersihin sebersih-bersihnya dari dosa kalian.""Mas! Denger, kan, mulutnya?!" Lina menghentak-hentakkan kakinya ke lanta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status