Se connecterAruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja.
Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia. *** "Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika. Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, dan harum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambut kusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda tidak sabar. "Mas ...." Aruna mencoba duduk, menahan nyeri di perut bekas kuretase. "Kamu dateng? Aku pikir kamu nggak bakal peduli." "Aku ke sini cuma mau mastiin kamu udah keluar apa belum. Kamu tahu sendiri biaya rumah sakit mahal dan aku harus irit," potong Bram cepat. Ia melempar sebuah tas berisi baju ganti Aruna ke atas kasur. "Ganti baju. Administrasi udah aku lunasi semua. Jadi, nggak usah nanya-nanya lagi." Aruna meraih tas itu dengan tangan gemetar. "Ma- makasih, Mas. Terus, jenazah anak kita gimana? Pihak rumah sakit tanya … kita bawa pulang aja, ya, Mas?" "Serahin sama rumah sakit aja," jawab Bram enteng tanpa beban, seolah sedang membicarakan paket kiriman barang. "Kita terima beres aja. Cari yang praktis." Mata Aruna membelalak. Air mata kembali menggenang di pelupuknya. Bekas air mata semalam bahkan masih mengering di pipinya. "Praktis kamu bilang?" suara Aruna tercekat. "Itu anak kita, Mas! Masa kamu nggak mau liat wajahnya terakhir kali? Masa kamu nggak mau gendong dia ke liang lahat!?" Bram berdecak lidah, wajahnya masam. Pria itu melangkah masuk dua langkah, lalu berkacak pinggang. "Aku sibuk, Run. Mana sempat kalau harus repot-repot gali tanah, panas-panasan di kuburan. Buang waktu,” kata Bram dingin. “Lagian udah mati, ya, biarin aja! Semua itu gara-gara kamu, jadi kamu yang tanggung sendiri!" "Astaga … Cuma sebentar, Mas. Kamu tega banget!" Aruna berusaha turun dari ranjang dengan hati-hati. Ia meraih tangan Bram yang dingin. "Setengah jam aja. Tolong adzanin, biar anak kita tenang di sana. Aku tahu aku salah karena nggak bisa jaga anak kita, tapi seenggaknya kamu sebagai ayahnya anterin dia." "Doa bisa dari mana aja. Lagian itu bayi belum punya dosa, pasti masuk surga. Kamu jangan banyak mau." Bram menunjuk jam tangannya lagi. "Lima menit. Kalau kamu belum siap, aku tinggal. Kamu bisa urus sendiri mayat itu." Aruna terisak pelan. Pria di depannya ini sudah membatu hatinya. Aruna pun tahu, saat ini hanya Linalah yang menjadi prioritas Bram. Akan percuma jika harus berdebat dengan sang suami. "Iya, Mas." Aruna mengalah pada akhirnya, menyalahkan dirinya lagi. Mungkin benar kata Bram, dia terlalu merepotkan. "Aku siap-siap sekarang. Nanti aku ikut mobil kamu, ya? Kita pulang bareng?" Bram menautkan alisnya, menatap Aruna kemudian mendengus remeh. "Siapa yang bilang kamu boleh pulang ke rumah? Run, coba kamu pikir dengan kepalamu, deh.” Gerakan tangan Aruna yang sedang melipat baju rumah sakit terhenti. Dia menoleh kaku. "Maksud kamu, Mas?" "Kamu nggak bisa balik ke rumah kita dulu," ucap Bram tegas. "Lina masih trauma liat darah kamu di karpet kemarin. Dia mual kalau inget kejadian itu. Kalau kamu muncul di sana, psikis Lina bakal keganggu. Nanti bayinya kenapa-kenapa, kayak bayimu." "Mas?” Aruna tak menyangka kalimat itu sanggup diucapkan oleh Bram. Tapi, tenaganya tak sanggup untuk melawan. “Terus aku harus tinggal di mana, Mas? Aku baru abis operasi. Aku butuh istirahat!" "Ya, terserah kamu aja. Pulang ke rumah orang tuamu di kampung atau cari hotel murah. Masih punya tabungan kerja ‘kan?" sahut Bram tanpa terdengar iba sedikit pun. Bram merogoh saku celananya, mengambil kunci mobil, lalu berbalik badan menuju pintu keluar. Keputusannya nampak sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. "Mas, tega banget kamu." Aruna merosot di tepi ranjang. "Aku diusir dari rumahku sendiri pas lagi berduka? Mas, aku tahu aku salah tapi kamu nggak perlu hukum aku kayak gini! Aku harus apa biar semuanya bisa baik-baik aja?" Bram berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa memutar badannya. "Bukan ngusir, tapi mencegah masalah baru. Aku mau suasana rumah kondusif buat Lina dan Dito. Kamu itu sumber masalah sekarang,” ucapnya dingin. Aruna mematung. Ia benar-benar tidak percaya apa yang baru saja diucapkan suaminya dari tadi. Belum sempat Aruna menjawab lagi, Bram melanjutkan. “Kalau kamu masih mau sama aku, nurut aja." Pria itu lalu melangkah keluar koridor, meninggalkan Aruna yang hancur lebur sendirian. Namun, sebelum bayangannya menghilang di tikungan, Bram berteriak pelan memberikan instruksi terakhir yang mematikan harapan. "Oh, ya, kunci rumah yang kamu pegang, titip di resepsionis. Jangan coba-coba dateng ke rumah dan jangan sampai Lina stres karena kamu.""Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam
"Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s
Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp
Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R
“Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A
Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t







