Share

Dimadu 4

Author: Noivella
last update publish date: 2026-02-08 10:12:52

“Mas!”

Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.

Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.

Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri.

Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.

Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana.

“Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar.

Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”

Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”

Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”

Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat Aruna tersenyum getir.

"Nggak usah, Pak. Mahal," jawab Aruna lirih, suaranya serak. "Lagian anak saya kecil kok, ringan. Saya pangku aja cukup. Uang saya pas-pasan pula."

Dengan wajah bingung, petugas kamar jenazah itu mengangguk canggung, kemudian menyerahkan jenazah yang dibungkus kain kepada Aruna. “Sekali lagi kami ucapkan turut berduka, Bu.”

Aruna pun langsung mengeratkan pelukannya pada bungkusan kain jarik kecil di dadanya. “Terima kasih, Pak.”

"Maaf, Bu, kalau boleh tahu … suaminya mana, Bu?" petugas itu bertanya dengan nada yang begitu hati-hati.

Aruna hanya bisa tersenyum pahit sebelum menjawab.

"Suami saya lagi sibuk kerja, Pak. Dia abdi negara, banyak urusan mendesak yang nggak bisa ditinggal."

Aruna tidak ingin orang lain berpikir buruk tentang suaminya, meski kenyataannya jauh lebih buruk dari dugaan siapa pun.

"Ah, saya mengerti. Baik, Bu, hati-hati di jalan,” ucap petugas itu sopan.

Aruna mengangguk, lalu berjalan tertatih menuju lobi rumah sakit.

Langkahnya berat karena beban di hatinya yang tak tertahankan. Aruna memesan taksi online dengan tangan gemetar, tujuannya adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) terdekat.

Tak lama, taksi online pesanannya datang. Aruna langsung naik ke taksi dengan hati-hati.

Sepanjang perjalanan, Aruna terus mengajak bicara bungkusan kain di pangkuannya.

"Maafin Mama ya, Dek. Ayah nggak bisa anter. Ayah … lagi jagain Kakak Dito sama Tante Lina. Mereka butuh Ayah. Kamu sama Mama aja, ya? Mama janji bakal sering nengokin kamu."

Sopir taksi yang mendengar gumaman itu hanya bisa melirik lewat kaca spion tengah dengan tatapan iba, namun nampaknya memilih diam.

Sesampainya di pemakaman, matahari sedang terik-teriknya.

Tanah merah yang sudah digali oleh petugas makam tampak menganga, siap menelan tubuh mungil anaknya. Aruna menyerahkan jenazah itu kepada Pak Ujang, penggali kubur tua yang sudah menunggunya.

Sebelum sampai di makam, tadi Aruna sempat menelepon terlebih dahulu.

"Lho, suaminya kemana, Neng?" tanya Pak Ujang sambil menerima jenazah itu dengan hati-hati. Keningnya berkerut dalam. "Biasanya bapaknya yang ngazanin. Masa ibunya sendirian?"

"Bapaknya dinas luar kota, Pak. Nggak keburu pulang," bohong Aruna lagi. Air matanya menetes jatuh ke tanah merah. "Bapak aja yang azanin ya? Saya minta tolong sekali, Pak."

Pak Ujang menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Ya sudah, sini saya wakilin."

Prosesi itu berlangsung cepat. Gundukan tanah merah kecil kini ada di hadapannya, hanya ditandai dengan nisan kayu sederhana bertuliskan 'Fulan bin Bramantyo'.

"Udah selesai, Neng," ujar Pak Ujang sambil menyeka keringat. Dia menatap Aruna yang masih termenung menatap nisan. "Neng mending pulang, istirahat. Mukanya pucet banget. Nanti malah pingsan di sini."

"Iya, Pak. Makasih banyak, ya," Aruna merogoh tasnya, memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu, sisa uang belanja bulan lalu yang ia hemat. "Ini buat Bapak. Maaf cuma segini."

"Makasih, Neng. Yang sabar, ya."

Aruna hanya mengangguk lemas.

Sepeninggal Pak Ujang, Aruna masih duduk di bangku beton tua di bawah pohon kamboja. Ia begitu bingung. Harus pergi kemana sekarang?

Aruna mengecek saldo tabungan di bank melalui ponselnya. Tinggal dua juta rupiah. Hanya cukup untuk sewa kos murah sebulan dan makan hemat.

Rasa nyeri di perutnya kembali menyerang. Aruna meringis, memegangi perut bawahnya. Ia butuh kasur yang empuk. Ia butuh air hangat. Ia butuh rumahnya!

Dengan tangan gemetar, Aruna memberanikan diri menekan nomor Bram.

Mungkin suaminya sudah tenang. Mungkin Bram akan merasa kasihan kalau tahu dia sudah selesai memakamkan anak mereka sendirian.

Panggilan pertama tidak diangkat. Aruna mencoba lagi beberapa kali. Entah panggilan keberapa, Bram baru mengangkatnya.

"Ada apa lagi sih? Kan sudah kubilang jangan ganggu dulu!"

Suara Bram di ujung sana terdengar ketus, diiringi suara TV yang cukup keras dan gelak tawa Dito.

"Mas ...." Aruna menggigit bibirnya, menahan isak. "Aku udah selesai makamin anak kita."

"Terus?" Bram menjawab datar, tanpa simpati sedikit pun.

"Mas, aku boleh pulang sebentar nggak? Buat ambil baju ganti sama obat-obatan aku yang ketinggalan di laci nakas. Badan aku sakit banget, Mas. Aku janji nggak bakal ganggu Lina."

Kemudian, di ujung sana terdengar suara Lina yang berbisik manja, "Siapa Mas? Si drama itu lagi? Jangan bolehin ke sini, ah, nanti dia bawa aura negatif. Aku takut sawan!"

Tentu saja Aruna mendengar itu. Hatinya seperti diiris sembilu. Ia dianggap pembawa sial di rumah yang ia beli dengan uang jerih payahnya sendiri.

"Denger kan kata Lina?" sahut Bram kemudian. "Kamu jangan ke sini. Aura kamu lagi gelap, abis dari kuburan pula."

Aruna menutup mulutnya tidak percaya. Ternyata suaminya masih setega itu? Namun, ia harus tetap berusaha.

"Tapi … baju aku di sana semua, Mas. Aku juga mau mengambil uangku di lemari."

"Repot. Beli baru saja," potong Bram tak sabar. "Lagipula, kode smart-lock udah aku ganti barusan. Kunci pagar juga aku ganti yang baru. Kamu nggak perlu coba-coba ke sini."

Aruna semakin ternganga. Ia menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar.

"Kamu ganti kode smart-lock rumah kita? Itu rumah atas nama kita berdua, Mas!"

"Sekarang jadi rumah buat anak-anakku. Kamu kan udah nggak punya anak, jadi kamu bukan prioritasku. Udah, ya, aku matikan."

"Mas, tunggu!-”

Sambungan diputus sepihak.

Aruna menatap layar ponsel yang kembali gelap. Ia sendirian di tengah pemakaman yang sepi, di bawah pohon kamboja yang menggugurkan bunganya. Angin sore berhembus, membuat tubuhnya yang masih lemah menggigil kedinginan.

Aruna benar-benar dibuang. Seperti barang yang sudah tidak berguna setelah isinya habis dipakai.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi.

Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Aruna membukanya dengan harapan itu dari Bram yang berubah pikiran.

[Jangan balik lagi ya, Run. Kasihan Mas Bram, dia baru ngerasain bahagia yang beneran sekarang. Kamu fokus tobat aja, mungkin anakmu mati karena ibunya kebanyakan dosa.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 19

    "Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 18

    "Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 17

    "Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 16

    "Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 15

    "Aku emang perempuan bodoh," racau Lina di sela isaknya. "Harusnya aku sadar diri dari dulu kalau aku ini cuma benalu. Harusnya aku nggak usah muncul lagi di kehidupan Mas Bram biar kamu nggak semarah ini. Maafin aku, Aruna ... aku pantes mati aja sekalian sama bayi ini ...."Bram yang berdiri tak jauh dari sofa tampak frustrasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Aruna dengan sorot memelas sekaligus menuntut."Kamu denger sendiri, kan, Run? Lina udah ngaku salah. Dia nyesel. Jangan keras kepala terus, kasihan dia lagi hamil tua. Turunin sedikit ego kamu," bujuk Bram.Aruna yang masih bersandar di dinding hanya menatap adegan di depannya dengan wajah datar. Tidak ada sebersit pun rasa iba di matanya. Hatinya sudah sedingin es."Udah selesai dramanya?" tanya Aruna tenang, memecah tangisan Lina yang sengaja dibuat-buat. "Kalau udah, sekarang giliran aku yang ngomong."Lina menghentikan isaknya sejenak, mengintip dari sela jari-jarinya."Dengerin baik-baik, karena aku nggak a

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 14

    "Ceraiin dia sekarang, Mas! Aku nggak sudi serumah sama orang gila kayak dia! Liat tuh baju dinas kamu, Mas! Liat baju sutra aku! Semuanya hancur!"Teriakan histeris Lina menyambut kedatangan Bram yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah. Napas pria itu memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia baru saja melihat pemandangan horor di selokan belakang rumah. Bram menatap Aruna yang duduk tenang di sofa sambil membolak-balik majalah lama, seolah tidak terjadi apa-apa."Aruna!" Suara Bram bergetar menahan amarah yang meluap. "Kamu sadar nggak apa yang udah kamu lakuin? Itu atribut negara! Kamu bisa dipidana karena melecehkan simbol institusi!"Aruna menutup majalahnya perlahan, lalu menatap Bram dengan tatapan bosan."Simbol institusi? Bukannya itu cuma kain pel buat kamu selingkuh? Lagian, aku cuma nyuciin kok. Kan, Lina minta bajunya bersih, ya udah aku bersihin sebersih-bersihnya dari dosa kalian.""Mas! Denger, kan, mulutnya?!" Lina menghentak-hentakkan kakinya ke lanta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status