Se connecter“Mas!”
Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi. Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti. Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah. Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.” Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.” Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.” Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat Aruna tersenyum getir. "Nggak usah, Pak. Mahal," jawab Aruna lirih, suaranya serak. "Lagian anak saya kecil kok, ringan. Saya pangku aja cukup. Uang saya pas-pasan pula." Dengan wajah bingung, petugas kamar jenazah itu mengangguk canggung, kemudian menyerahkan jenazah yang dibungkus kain kepada Aruna. “Sekali lagi kami ucapkan turut berduka, Bu.” Aruna pun langsung mengeratkan pelukannya pada bungkusan kain jarik kecil di dadanya. “Terima kasih, Pak.” "Maaf, Bu, kalau boleh tahu … suaminya mana, Bu?" petugas itu bertanya dengan nada yang begitu hati-hati. Aruna hanya bisa tersenyum pahit sebelum menjawab. "Suami saya lagi sibuk kerja, Pak. Dia abdi negara, banyak urusan mendesak yang nggak bisa ditinggal." Aruna tidak ingin orang lain berpikir buruk tentang suaminya, meski kenyataannya jauh lebih buruk dari dugaan siapa pun. "Ah, saya mengerti. Baik, Bu, hati-hati di jalan,” ucap petugas itu sopan. Aruna mengangguk, lalu berjalan tertatih menuju lobi rumah sakit. Langkahnya berat karena beban di hatinya yang tak tertahankan. Aruna memesan taksi online dengan tangan gemetar, tujuannya adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) terdekat. Tak lama, taksi online pesanannya datang. Aruna langsung naik ke taksi dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Aruna terus mengajak bicara bungkusan kain di pangkuannya. "Maafin Mama ya, Dek. Ayah nggak bisa anter. Ayah … lagi jagain Kakak Dito sama Tante Lina. Mereka butuh Ayah. Kamu sama Mama aja, ya? Mama janji bakal sering nengokin kamu." Sopir taksi yang mendengar gumaman itu hanya bisa melirik lewat kaca spion tengah dengan tatapan iba, namun nampaknya memilih diam. Sesampainya di pemakaman, matahari sedang terik-teriknya. Tanah merah yang sudah digali oleh petugas makam tampak menganga, siap menelan tubuh mungil anaknya. Aruna menyerahkan jenazah itu kepada Pak Ujang, penggali kubur tua yang sudah menunggunya. Sebelum sampai di makam, tadi Aruna sempat menelepon terlebih dahulu. "Lho, suaminya kemana, Neng?" tanya Pak Ujang sambil menerima jenazah itu dengan hati-hati. Keningnya berkerut dalam. "Biasanya bapaknya yang ngazanin. Masa ibunya sendirian?" "Bapaknya dinas luar kota, Pak. Nggak keburu pulang," bohong Aruna lagi. Air matanya menetes jatuh ke tanah merah. "Bapak aja yang azanin ya? Saya minta tolong sekali, Pak." Pak Ujang menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Ya sudah, sini saya wakilin." Prosesi itu berlangsung cepat. Gundukan tanah merah kecil kini ada di hadapannya, hanya ditandai dengan nisan kayu sederhana bertuliskan 'Fulan bin Bramantyo'. "Udah selesai, Neng," ujar Pak Ujang sambil menyeka keringat. Dia menatap Aruna yang masih termenung menatap nisan. "Neng mending pulang, istirahat. Mukanya pucet banget. Nanti malah pingsan di sini." "Iya, Pak. Makasih banyak, ya," Aruna merogoh tasnya, memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu, sisa uang belanja bulan lalu yang ia hemat. "Ini buat Bapak. Maaf cuma segini." "Makasih, Neng. Yang sabar, ya." Aruna hanya mengangguk lemas. Sepeninggal Pak Ujang, Aruna masih duduk di bangku beton tua di bawah pohon kamboja. Ia begitu bingung. Harus pergi kemana sekarang? Aruna mengecek saldo tabungan di bank melalui ponselnya. Tinggal dua juta rupiah. Hanya cukup untuk sewa kos murah sebulan dan makan hemat. Rasa nyeri di perutnya kembali menyerang. Aruna meringis, memegangi perut bawahnya. Ia butuh kasur yang empuk. Ia butuh air hangat. Ia butuh rumahnya! Dengan tangan gemetar, Aruna memberanikan diri menekan nomor Bram. Mungkin suaminya sudah tenang. Mungkin Bram akan merasa kasihan kalau tahu dia sudah selesai memakamkan anak mereka sendirian. Panggilan pertama tidak diangkat. Aruna mencoba lagi beberapa kali. Entah panggilan keberapa, Bram baru mengangkatnya. "Ada apa lagi sih? Kan sudah kubilang jangan ganggu dulu!" Suara Bram di ujung sana terdengar ketus, diiringi suara TV yang cukup keras dan gelak tawa Dito. "Mas ...." Aruna menggigit bibirnya, menahan isak. "Aku udah selesai makamin anak kita." "Terus?" Bram menjawab datar, tanpa simpati sedikit pun. "Mas, aku boleh pulang sebentar nggak? Buat ambil baju ganti sama obat-obatan aku yang ketinggalan di laci nakas. Badan aku sakit banget, Mas. Aku janji nggak bakal ganggu Lina." Kemudian, di ujung sana terdengar suara Lina yang berbisik manja, "Siapa Mas? Si drama itu lagi? Jangan bolehin ke sini, ah, nanti dia bawa aura negatif. Aku takut sawan!" Tentu saja Aruna mendengar itu. Hatinya seperti diiris sembilu. Ia dianggap pembawa sial di rumah yang ia beli dengan uang jerih payahnya sendiri. "Denger kan kata Lina?" sahut Bram kemudian. "Kamu jangan ke sini. Aura kamu lagi gelap, abis dari kuburan pula." Aruna menutup mulutnya tidak percaya. Ternyata suaminya masih setega itu? Namun, ia harus tetap berusaha. "Tapi … baju aku di sana semua, Mas. Aku juga mau mengambil uangku di lemari." "Repot. Beli baru saja," potong Bram tak sabar. "Lagipula, kode smart-lock udah aku ganti barusan. Kunci pagar juga aku ganti yang baru. Kamu nggak perlu coba-coba ke sini." Aruna semakin ternganga. Ia menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar. "Kamu ganti kode smart-lock rumah kita? Itu rumah atas nama kita berdua, Mas!" "Sekarang jadi rumah buat anak-anakku. Kamu kan udah nggak punya anak, jadi kamu bukan prioritasku. Udah, ya, aku matikan." "Mas, tunggu!-” Sambungan diputus sepihak. Aruna menatap layar ponsel yang kembali gelap. Ia sendirian di tengah pemakaman yang sepi, di bawah pohon kamboja yang menggugurkan bunganya. Angin sore berhembus, membuat tubuhnya yang masih lemah menggigil kedinginan. Aruna benar-benar dibuang. Seperti barang yang sudah tidak berguna setelah isinya habis dipakai. Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Aruna membukanya dengan harapan itu dari Bram yang berubah pikiran. [Jangan balik lagi ya, Run. Kasihan Mas Bram, dia baru ngerasain bahagia yang beneran sekarang. Kamu fokus tobat aja, mungkin anakmu mati karena ibunya kebanyakan dosa.]"Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam
"Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s
Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp
Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R
“Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A
Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t







