Share

Mas Bram, Besok Kita Bercerai
Mas Bram, Besok Kita Bercerai
Penulis: Noivella

DiMadu 1

Penulis: Noivella
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-08 08:46:14

"Kamu ngapain pulang sekarang!?"

Aruna baru membuka pintu rumah ketika dikejutkan dengan pertanyaan dari Bram, suaminya. Senyum Aruna seketika lenyap, digantikan oleh rahang yang jatuh menganga. Kotak oleh-oleh brownies bakar yang ia bawa dari Bandung terlepas dari tangannya.

Suara kotak kue yang menghantam lantai marmer itu menggema di ruang tengah yang hening. Namun, pemandangan di depan mata Aruna jauh lebih merusak daripada kue yang hancur itu.

Di sana, di atas karpet bulu abu-abu kesayangan Aruna, Bram sedang duduk berselonjor santai bersama seorang wanita hamil yang mengenakan daster batik milik Aruna, sedang menyandarkan kepalanya manja di bahu Bram.

Yang paling membuat jantung Aruna berhenti berdetak adalah keberadaan seorang bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun. Bocah itu sedang tidur pulas dengan berbantalkan paha wanita itu, sementara kakinya yang mungil naik ke atas paha Bram.

"Mas?" suara Aruna bergetar hebat, nyaris tak terdengar. Matanya memanas, napasnya tercekat di tenggorokan. "Ini ... ini apa? Kenapa Lina ada di sini?"

Bram tidak tampak merasa bersalah. Dia justru berdecak kesal, seolah kedatangan Aruna adalah gangguan besar di siang bolong. Dia menepuk pelan bahu Lina, memberi kode agar wanita itu bangun. Lina adalah sahabat Aruna.

"Aruna!" teriak Bram sambil berdiri, sedikit menghalangi pandangan Aruna ke arah Lina dan bocah itu. "Kenapa pulang nggak bilang-bilang? Main masuk aja kayak maling."

"Maling? Ini rumahku, Mas!" air mata Aruna mulai tumpah. "Aku mau kasih kejutan. Tapi kenapa malah aku yang dikasih kejutan kayak gini? Lina...?"

Lina menguap pelan, mengusap matanya yang masih mengantuk. Dia membenarkan letak dasternya yang sedikit tersingkap, memperlihatkan perut buncitnya yang hamil tua. Wajahnya tenang, bahkan cenderung kesal.

"Duh, Aruna ... pelan dikit dong suaranya!" keluh Lina sambil memegangi kepalanya. "Aku lagi pusing banget nih, baru aja bisa tidur sebentar, kamu udah teriak-teriak. Kasihan Dito bangun nanti."

Lina mengusap bocah tadi, yang ternyata bernama Dito.

Aruna menatap wanita itu tak percaya. "Kamu ... kamu nyalahin aku?"

Aruna melangkah maju dengan kaki gemetar, mendekati suaminya. Aruna meraih tangan Bram, menatapnya dengan tatapan memohon. Hatinya hancur, tapi rasa cintanya yang buta membuatnya menyangkal kenyataan.

"Mas Bram, bilang sama aku ini nggak kayak yang aku pikirin! Anak itu ... anak siapa, Mas? Kenapa dia tidur di pangkuan kamu?"

Bram menepis tangan Aruna. Dia menghela napas panjang, memasang wajah lelah.

"Dito itu anakku, Run. Anak kandungku."

Aruna terbelalak mendengarnya. Dunia Aruna runtuh seketika. Kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai.

"Nggak mungkin," isak Aruna, menggelengkan kepala histeris. Dia memeluk kaki Bram, merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya. "Mas, bohong kan? Kita nikah udah lima tahun ... aku baru hamil sekarang. Kapan kamu punya anak segede itu? Mas, tolong jangan bercanda!"

"Tuh, kan, Mas. Aruna mulai drama deh," sela Lina dari sofa. Dia mengelus perutnya dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Aku jadi deg-degan nih, Mas. Takut kontraksi dini kalau denger dia nangis-nangis gini. Bawaan bayi jadi ikutan stres."

Bram langsung menoleh cemas ke arah Lina. "Sabar ya, Sayang. Tarik napas."

Lalu Bram kembali menatap Aruna yang bersimpuh di kakinya. "Aruna, jangan egois," ucap Bram. “Tujuh tahun lalu, waktu aku pendidikan polisi. Kamu selalu sibuk kerja, tidak pernah perhatiin aku."

"Aku kerja buat biayain kamu, Mas!" Aruna meraung pelan, suaranya parau. "Aku cari uang buat modal nikah kita ... buat renovasi rumah orang tuamu. Semua demi kamu."

"Tapi aku butuh istri, bukan mesin ATM," potong Bram, nadanya seolah dialah yang paling tersakiti.

"Jadi ini salahku?" Aruna menatap Bram dengan pandangan nanar. "Kamu selingkuh, kamu nikah siri, kamu punya anak, itu semua salahku?"

"Ya, kamu introspeksi diri dong," selak Lina lagi, suaranya begitu enteng. "Kalau kamu becus ngurus suami dari dulu, Mas Bram nggak bakal cari kenyamanan di aku. Aku tuh di sini berkorban tau, Run. Aku rela jadi istri siri, rela ngalah demi kamu selama bertahun-tahun. Sekarang giliran kamu yang ngertiin posisi kami dong. Jangan mau menangnya sendiri."

Ucapan Lina begitu menyakitkan, tapi entah kenapa, di telinga Aruna, itu terdengar seperti vonis. Aruna mulai meragukan dirinya sendiri. Apa benar dia yang salah? Apa benar dia terlalu ambisius dulu?

"Mas…," Aruna masih mengemis, air matanya membasahi celana Bram. "Aku minta maaf kalau aku salah. Aku udah resign sekarang, Mas. Aku udah di rumah terus buat kamu. Tolong, Mas ... usir Lina. Kita mulai lagi dari awal sama anak kita…" Aruna menunjuk perut buncitnya sendiri.

"Nggak bisa," jawab Bram cepat. "Lina lagi hamil anak keduaku. Dia butuh aku. Dito juga butuh ayahnya."

"Terus aku gimana, Mas!?’’ Aruna memekik tidak percaya.

"Entah," jawab Bram tanpa perasaan. "Kamu tidur di kamar tamu dulu. Jangan bikin keributan."

Belum sempat Aruna menjawab lagi, suara yang lain memotongnya.

"Ayah?"

Suara serak khas bangun tidur terdengar. Bocah laki-laki itu, Dito, terbangun. Dia mengusap matanya, lalu menatap Aruna yang sedang menangis di lantai dengan tatapan bingung.

"Ayah, Tante ini siapa? Kok nangis-nangis? Berisik banget, Dito mau tidur lagi," rengek bocah itu manja, langsung memeluk pinggang Bram.

Bram tersenyum lembut pada Dito, lalu mengusap kepala anaknya. "Nggak apa-apa, Jagoan. Tante ini cuma tamu."

Bram menatap Aruna lagi, kali ini dengan sorot mata mengusir.

"Pergi sana, Run."

Aruna merasa dadanya sesak bukan main. Ia mencoba berdiri dengan susah payah. Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menghantam perut bagian bawahnya. Rasanya seperti ditarik paksa.

"Ahh!" Aruna memekik, mencengkeram perutnya. Wajahnya memucat. "Mas ... sakit ... perutku sakit banget, Mas."

Keringat dingin mengucur di pelipis Aruna. Dia mengulurkan tangan pada Bram, berharap suaminya akan menangkapnya. Tapi Bram tidak bergerak. Dia justru sibuk menggendong Dito yang merengek minta digendong.

"Jangan akting deh!" cibir Lina dari sofa. "Aku juga hamil tua, nggak manja kayak kamu. Dikit-dikit sakit, dikit-dikit ngeluh. Mas Bram capek tau, Run. Jangan nambah beban pikiran dia."

Aruna mengabaikan Lina. Ia meringis lagi.

"Aku sakit beneran, Mas. Tolong ...." Aruna merintih, tubuhnya limbung.

Bram menatapnya sekilas, lalu membuang muka.

"Kamu istirahat aja di kamar tamu, nanti sakitnya juga hilang. Aku mau nidurin Dito dulu di kamar utama."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 8

    "Jangan, Aruna! Jangan cerai! Aku mohon!" Jeritan Lina melengking tinggi, memecahkan keheningan pagi di Tanah Abang. Aruna terperanjat, berusaha mundur, tapi cengkeraman tangan Lina di kakinya terlalu kuat. "Lepas, Lin! Apa-apaan sih kamu?! Bangun!" Aruna panik, risih menjadi tontonan. "Ini salahku! Semua ini salahku!" Lina meraung, mendongakkan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. "Aruna, tolong, dengerin aku dulu. Jangan tinggalin Mas Bram gara-gara aku. Pukul aku aja! Injek aku! Tapi tolong jangan cerai!" "Kamu pikir dengan sujud gini dosa kamu lunas? Kamu itu perusak, Lin!" "Aku bukan perusak, Aruna! Aku korban keadaan!" potong Lina dengan nada menyayat hati. Dia menatap Marni dan Santi yang melongo. Lina kembali memeluk kaki Aruna, kali ini lebih erat, seolah menyembah berhala. "Asal kalian tau." Lina terisak, menekan perutnya seolah menahan sakit. "Sebenernya ... aku ini istri pertamanya Mas Bram. Kami udah menikah jauh hari sebelum kenal Aruna." "Hah!" gumam

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 7

    "Heh, pelakor! Masih punya muka lo dateng ke sini pagi-pagi? Gue kira lo udah angkat kaki gara-gara video Pak Haji kemarin." Sambutan Marni pagi itu benar-benar menguji kesabaran Aruna. Ia baru saja meletakkan tasnya di meja administrasi, namun Marni dan Santi sudah berdiri berkacak pinggang dengan tatapan sinis. "Mbak Marni, tolong ya," jawab Aruna pelan, berusaha tidak terpancing. Dia menyalakan komputer dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Saya di sini mau kerja. Pak Haji belum mecat saya, jadi saya masih punya hak ada di sini." "Dih, hak apaan? Hak ngegoda bos sendiri?" cibir Santi sambil memeras kain pel dengan kasar. "Asal lo tau ya, Bu Hajjah hari ini mau dateng buat sidak. Mampus lo. Mending lo kabur sekarang daripada dijambak di depan umum." Aruna menelan ludah. Ancaman itu membuatnya takut, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh gaji minggu ini untuk makan. "Biarkan Bu Hajjah dateng. Saya bakal jelasin semuanya kalau saya nggak salah," sahut Aruna." Belum s

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 6

    Aruna menatap wajah sahabatnya dengan penuh pengharapan. “Kenalan?”"Iya, gue ada saudara yang lagi cari karyawan, cuma gue nggak bisa anter lo. Tapi gue bisa coba tembusin lo ke beliau."Aruna menangguk mantap. Tekadnya sudah mantap untuk membangun hidupnya sendiri. Ia mengesampikan soal Bram dan Lina, setidaknya sampai hatinya lebih lapang untuk menerima itu. ***Tiga hari kemudian, Aruna sudah bersiap dari pagi hari untuk bekerja. Ia diterima oleh salah satu toko tekstil di daerah Tanah Abang. Ini semua berkat Ratna, Aruna tidak lupa berterimakasih kepada sahabatnya itu. Pak Haji Rahmat, kerabat Ratna, menerima Aruna dengan tangan terbuka. Ratna sudah menceritakan garis besar masalah Aruna, dan Pak Haji Rahmat hanya mengangguk paham tanpa menghakimi.Aruna ditempatkan di meja administrasi di sudut belakang toko, diapit oleh tumpukan roll kain katun jepang. Di sana ada tiga karyawan lain: Marni, Santi, dan Ujang. Awalnya mereka menyambut Aruna dengan biasa saja, bahkan Marni semp

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 5

    Aruna menatap ponselnya dengan geram. Sakit hatinya kembali berlipat ganda.Beraninya Lina bicara seperti itu!? Batin Aruna.Sekarang Aruna benar-benar kebingungan harus pulang kemana. Ia ingin pulang, namun Bram dengan tegas seolah tidak menerimanya lagi. Sementara itu Lina berlagak seperti tuan rumah dan istri sah membuat Aruna muak.Aruna dengan cepat memutar otaknya. Lantas nama sahabatnya muncul di kepala. Ratna. Mungkin Ratna setidaknya dapat membantu Aruna menenangkan pikirannya.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia memesan ojek online menuju rumah Ratna. ***"Astaga, Aruna!”Ratna setengah berteriak saat membuka pintu pagar rumahnya. “Muka lo pucet banget! Lo habis ngapain, Run!?" lanjut Ratna lagi. Aruna hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah. Melihat sahabatnya seperti itu, Ratna seperti langsung paham.Tanpa menunggu jawaban, Ratna langsung menarik tangan Aruna yang sudah sedingin es, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang hangat."Minum dulu. Pelan-pelan,” kata R

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 4

    “Mas!”Betul-betul percuma Aruna memanggil Bram, karena pria itu melangkah cepat hingga tak terlihat lagi.Air mata Aruna jatuh semakin deras. Pakaian yang sedang dilipatnya dibasahi tetes-tetesan air mata yang enggan berhenti.Tubuhnya masih sakit pasca operasi, namun, sekarang ia juga harus menanggung sakit hati bertubi akibat perilaku suaminya sendiri. Bagaimana pun, Aruna tidak memiliki pilihan lain. Jadi, setelah merapikan barang-barangnya, Aruna melangkah gontai ke ruang jenazah.Sesampainya di sana, ia segera berbicara kepada petugas yang berada di sana. “Permisi, saya mau membawa pulang jenazah anak saya,” suara Aruna bergetar. Petugas yang tengah berjaga langsung sigap menangani. “Baik, Bu. Mobil ibu parkir di mana? Biar kami antar.”Aruna menggeleng. “Saya bawa pakai taksi online aja.”Petugas itu menoleh, raut wajahnya seolah tidak yakin dengan ucapan Aruna. "Kalau begitu, pakai ambulan jenazah saja, ya, Bu? Supaya lebih aman.”Tawaran petugas kamar jenazah itu membuat A

  • Mas Bram, Besok Kita Bercerai   Dimadu 3

    Aruna hanya bisa memandangi punggung Bram dengan air mata yang langsung jatuh begitu saja. Hatinya begitu sakit. Ia memandangi ruang yang terlalu sepi ini, seolah tidak percaya hal-hal yang baru saja terjadi. Semuanya begitu cepat dan rasanya Aruna bisa kehilangan akal kapan saja. Aruna menangis hingga kelelahan malam itu. Bahkan, Aruna bermimpi tentang keluarganya yang terlihat begitu bahagia.***"Buruan beres-beres. Aku nggak punya waktu seharian nungguin kamu ngelamun,” suara bariton itu memecah keheningan kamar rawat inap yang berbau obat-obatan. Aruna tersentak kaget. Lamunannya tentang wajah bayi mungil yang sempat ia lihat sekilas tadi pagi buyar seketika.Di ambang pintu, Bram berdiri tegap dengan seragam polisi lengkap. Gagah, rapi, danharum. Kontras sekali dengan penampilan Aruna yang berantakan, mata bengkak, rambutkusut, dan wajah pucat pasi. Pria itu tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pintu sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jam tangan, tanda t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status