Pintu kamar terbuka. Adriano masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menuju ranjang. Elena sudah membuka mata. Wajahnya masih pucat. Selang oksigen telah dilepas, menyisakan bekas tipis di belakang telinga. Rambutnya berantakan di atas bantal. Salah satu tangannya berada di atas selimut, jarum infus masih terpasang di punggung tangan. Adriano mendekat. “Elena.” Tatapan perempuan itu bergeser kepadanya. Tidak ada kata. Adriano meraih jemarinya. Hangat. Genggamannya menutup perlahan. “Kau sudah sadar?” Kelopak mata Elena berkedip sekali. Adriano mengembuskan napas. “Aku kira kau tidak akan membuka mata lagi.” Jemari Elena bergerak kecil di dalam tangannya. Ketukan terdengar. Seorang suster masuk membawa cairan infus baru. Ia memeriksa selang, mengganti kantong yang hampir kosong, kemudian memastikan alirannya tetap lancar. “Signore, dokter sebentar lagi datang untuk memeriksa Signora.” Adriano mengangguk. Suster menyingkir. Beberapa menit kemudian, ketukan kembali t
Read more