Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang mulai hidup lagi. Para pelayan bergerak membawa baki minuman. Tamu-tamu kembali berbaur, seolah perempuan yang beberapa menit lalu meninggalkan panggung hanyalah jeda singkat dalam rangkaian acara yang tetap harus berjalan. Adriano turun dari sisi panggung. Beberapa orang menganggukkan kepala ketika berpapasan dengannya. Ia membalas seperlunya. Langkahnya tak melambat hingga mencapai pintu samping ballroom. Daun pintu terbuka. Suara musik meredup di belakang punggungnya. Koridor menyambut dengan kesunyian yang nyaris utuh. Bunyi sepatunya memantul di lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Di ujung lorong, dua daun pintu berdiri saling berhadapan. Ladies. Gentlemen.
Read More