LOGINElias tidak segera menjawab.
Jari-jarinya masih berada di atas kotak kayu tempat ia menyimpan catatan inventaris. Pandangannya turun pada klip merah di tangan Adriano. Ada goresan kecil di bagian dalamnya. “Mungkin hanya kebetulan, Signore.” Adriano mengangkat klip itu sedikit. “Benda ini hanya dibuat satu.” Elias mengembuskan napas pendek. “Banyak benda berpindah tangan.” “Elias tidak segera menjawab. Jari-jarinya masih berada di atas kotak kayu tempat ia menyimpan catatan inventaris. Pandangannya turun pada klip merah di tangan Adriano. Ada goresan kecil di bagian dalamnya. “Mungkin hanya kebetulan, Signore.” Adriano mengangkat klip itu sedikit. “Benda ini hanya dibuat satu.” Elias mengembuskan napas pendek. “Banyak benda berpindah tangan.” “Ini bukan artefak.” “Saya tahu.” Adriano tidak berkedip. Elias mengambil sebuah map dari meja. Membukanya. Menutupnya kembali. “Barang kecil seperti itu bisa hilang bertahun-tahun. Ditemukan seseorang. Disimpan. Dijual. Diberikan kepada orang lain.” Adriano menatapnya. “Termasuk anak kecil?” Elias mengangkat wajah. “Termasuk apa pun.” Suara roda troli terdengar d
Pagi masuk melalui celah tirai. Cahaya pucat jatuh di ujung ranjang, berhenti pada selimut yang menutupi kaki Elena. Matanya terbuka. Untuk beberapa saat ia hanya menatap langit-langit. Tubuhnya masih terasa berat. Nyeri di lengan belum hilang. Betisnya berdenyut setiap kali ia mengubah posisi. Elena menarik napas dan mengangkat tubuh sedikit lebih tinggi. Bantal di belakang punggung menopangnya. Di dekat jendela, tirai vitrase terbuka beberapa jengkal. Cahaya pagi menembus kain tipis itu dan membuat debu-debu kecil tampak melayang. Seorang suster berdiri di sisi meja. Begitu melihat Elena bergerak, ia menutup catatan medis. “Signora sudah bangun.” Elena mengangguk kecil. Pandangannya berkeliling kamar. Berhenti pada kursi di sudut. Kosong. “Di mana Signore?” “Beliau keluar sebentar.” Suster memeriksa selang infus di punggung tangannya. “Saya diminta tetap mengawasi Signora sampai beliau kembali.” Elena menurunkan pandangan. Jemarinya bergerak satu per satu. Masih
Malam turun di atas mansion Moretti. Di kamar, Elena duduk bersandar pada dua bantal. Perban membungkus lengan dan betisnya. Selang infus masih terpasang di punggung tangan. Ia menggerakkan jemarinya. Nyeri menjalar sampai siku. Elena berhenti. Bekas gigitan di lengannya masih berdenyut di bawah balutan. Ia menyentuh tepi perban, kemudian membiarkan tangannya jatuh ke atas selimut. Suara Adriano kembali terdengar dalam ingatannya. Aku pernah punya seorang adik perempuan. Namanya Alessandra. Kalau dia masih hidup, usianya mungkin tidak jauh darimu. Elena mengalihkan pandangan ke jendela. Tirai tertutup. Tangannya naik ke rambut, berhenti di dekat telinga. Kosong. Jepit merah itu sudah tidak ada. Ingatan lain menyusul. Tatapan Adriano ketika pertama kali melihat benda itu di tangannya. Kau mencuri benda ini dari lemariku? Aku tidak mencuri apa pun darimu. Siapa yang memberikannya? Elena memejamkan mata. Mungkin hanya kebetulan. Benda lama bisa
Ketukan terdengar. Adriano mengangkat wajah. “Masuk.” Pintu terbuka. Elias berdiri di ambang dengan tiga map di lengannya. “Signore.” Ia masuk dan menutup pintu. “Anda memanggil saya.” “Ya.” Elias berjalan menuju meja. “Kebetulan saya baru dari ruang kerja Signore Valerius.” Tiga map diletakkan di hadapan Adriano. “Beliau meminta laporan pengeluaran bahan bangunan minggu ini diperiksa ulang. Ada beberapa angka yang belum masuk ke sistem.” Adriano tidak menyentuh map tersebut. Elias membuka yang paling atas. “Pengiriman dari pelabuhan timur tercatat dua belas unit. Di bagian penerimaan hanya tercatat sebelas.” Ujung jarinya menunjuk satu baris. “Berarti ada selisih satu unit.” Adriano masih diam. Elias m
Pintu kamar Elena tertutup di belakang Adriano. Ia berjalan menyusuri koridor tanpa menoleh. Cahaya pagi jatuh dari jendela tinggi dan memotong marmer menjadi bidang-bidang pucat. Seorang pelayan menepi ketika melihatnya. Adriano lewat tanpa suara. Pintu ruang kerja terbuka. Di atas meja, map-map proyek pelabuhan telah tersusun menurut urutan laporan. Sebuah pena terletak sejajar dengan tepi meja. Tablet menyala pada halaman yang memuat angka-angka pengiriman. Adriano menarik kursi. Duduk. Tangannya tidak menyentuh satu pun berkas. Jemarinya masuk ke saku jas. Benda kecil itu masih ada di sana. Ia mengeluarkannya. Jepit rambut merah. Sisa tanah masih melekat di sela lekukan pengait. Ibu jarinya mengusap permukaan logam. Satu goresan tipis di bagian dalam. Lengkungan kecil pada ujung pengait. Tangannya berhenti. Hujan. Kamar seorang anak. Suara tawa. Dua puluh delapan tahun sebelumnya. Adriano berusia sebelas tahun ketika pulang lebih cepat dari sekolah. Tasnya ma
Pintu kamar terbuka. Adriano masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menuju ranjang. Elena sudah membuka mata. Wajahnya masih pucat. Selang oksigen telah dilepas, menyisakan bekas tipis di belakang telinga. Rambutnya berantakan di atas bantal. Salah satu tangannya berada di atas selimut, jarum infus masih terpasang di punggung tangan. Adriano mendekat. “Elena.” Tatapan perempuan itu bergeser kepadanya. Tidak ada kata. Adriano meraih jemarinya. Hangat. Genggamannya menutup perlahan. “Kau sudah sadar?” Kelopak mata Elena berkedip sekali. Adriano mengembuskan napas. “Aku kira kau tidak akan membuka mata lagi.” Jemari Elena bergerak kecil di dalam tangannya. Ketukan terdengar. Seorang suster masuk membawa cairan infus baru. Ia memeriksa selang, mengganti kantong yang hampir kosong, kemudian memastikan alirannya tetap lancar. “Signore, dokter sebentar lagi datang untuk memeriksa Signora.” Adriano mengangguk. Suster menyingkir. Beberapa menit kemudian, ketukan kembali t
Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.
Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny
Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti







