Mag-log inMature 21+ “Kau pikir aku akan berhenti?” Adriano tersenyum tipis. “Aku tidak berhenti pada hal yang sudah masuk ke wilayahku.” Ia dikurung di istana malam milik pria paling berbahaya di Genoa—bukan sebagai tawanan, bukan pula sebagai kekasih. Adriano Moretti terbiasa memerintah dengan darah dan kesunyian. Namun kehadiran Elena mengganggu ritme hidupnya—perempuan yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. Satu atap. Satu ranjang. Terlalu banyak rahasia. Di balik sentuhan yang tertahan dan jarak yang menyiksa, masa lalu mulai merangkak kembali. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, Adriano harus memilih: menaati darah yang membesarkannya… atau menghancurkan segalanya demi menyelamatkan perempuan yang datang terlalu terlambat ke hidupnya.
view more"Tidak." Satu kata itu berdiri di antara mereka. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Valerius menggerakkan kursi rodanya sedikit maju. "Lepaskan dia." Adriano tidak bergeser. "Aku sudah kehilangan dia sekali." Mata Valerius turun pada jemari yang saling menggenggam. "Elena…" Perempuan itu menatapnya. Adriano tidak menoleh. "Tetap di sini." Jemari Elena bergerak kecil di dalam genggamannya. Valerius mengangkat wajah. Tatapannya melewati Adriano dan berhenti pada Elias yang masih terbaring di halaman. Darah membasahi sisi jas pria itu. Elias mengangkat mata. Mereka bertemu pandang. "Terkadang pengkhianat tidak datang dari luar," kata Valerius. Elias diam. "Mereka tumbuh di dalam rumah sendiri." Angin menyentuh ujung tirai pintu. Valerius menatapnya. "Jika malam itu kau menjalankan perintahku…" Pandangan lelaki tua itu bergeser kepada Elena. "…semua ini tidak akan terjadi." Elias menutup mata sesaat. "Saya tahu." Valerius merogo
“Aku tetap tidak akan membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Suara Valerius jatuh di ambang pintu. Adriano masih menggenggam tangan Elena. Jemari mereka belum terlepas sejak keluar dari halaman belakang. “Kenapa?” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Karena dia adikmu.” Tatapan Adriano mengeras. “Dia?” “Silvia sudah meracuni pikiranmu, Adriano.” “Apa yang dia racuni?” Valerius diam. Adriano maju satu langkah. “Dia tidak pernah mengajariku untuk melawanmu.” “Karena kau masih terlalu muda untuk melihatnya.” “Dia yang membesarkanku.” “Dan itulah yang selama ini kutakutkan.” Adriano menatap lelaki tua di kursi roda itu.
“Kenapa kau meninggalkanku di panti asuhan?” Jemari Elena masih mencengkeram lengan Julian. Elias terbaring di tanah. Satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Darah merembes di sela jemarinya dan jatuh ke batu yang basah. Tatapannya berhenti pada wajah Elena. Ia tidak segera menjawab. Adriano menurunkan pistol beberapa senti. “Jawab.” Elias menarik napas pendek. “Karena aku punya seorang anak perempuan.” Tatapan Adriano berubah. “Anak?” Elias mengangguk. “Usianya tidak jauh darimu malam itu.” Elena mengerutkan kening. “Kau tidak pernah menceritakannya.” “Aku memang tidak pernah.” Elias menatap tangannya sendiri yang mulai berlumur darah. “Aku menyembunyikannya dari semua orang.” “Kenapa?” “Pekerjaanku.” Hanya itu. Elena menunggu. Elias mengangkat wajah. “Dunia tempatku bekerja selalu mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan seseorang.” Tatapannya kembali kepada Elena. “Aku tidak akan memberikan mereka anakku.” Angin malam
“Sekarang katakan padaku siapa sebenarnya Elena.” Pistol Adriano tetap terangkat. Elias duduk di tanah, satu tangan menekan sisi tubuhnya. Darah merembes di sela jarinya. Tidak ada penjaga yang bergerak. Julian masih memeluk Elena dari samping. Jemari perempuan itu mencengkeram kain kemejanya. Elias menatap Adriano. Tidak menjawab. “Jawab.” Suara Adriano tidak keras. Itu membuat laras pistol di tangannya terasa lebih berat. Elias menarik napas. “Perempuan itu…” Ia berhenti. “Adalah anak yang kau temukan di tempat asalnya.” Adriano menyipitkan mata. “Tempat asalnya.” Elias diam. “Jawabanmu selalu berlandaskan perintah.” Adriano melangkah turun dari anak tangga. “Dua puluh delapan tahun lalu kau bilang sudah membereskan Alessandra.” Tatapan Elias turun. “Kau bilang mayat Silvia dibuang ke laut.” Satu langkah lagi. “Kau juga bilang anak itu sudah dibereskan.” Adriano mengangkat pistol sedikit. “Bagaimana?” Elias tidak menjawab. “Menembaknya?” Hanya suara angin
Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.