Pagi datang tanpa suara. Elena tidak tahu apa yang membangunkannya lebih dulu—dinginnya sisi ranjang yang kosong, atau hilangnya sesuatu yang semalam terasa terlalu dekat. Matanya terbuka perlahan. Cahaya di balik tirai masih pucat. Belum cukup terang untuk disebut pagi. Aroma kopi sudah lebih dulu ada—tipis, pahit, masuk tanpa perlu diundang. Ia duduk. Seprai di sisinya sudah rata. Tidak ada bekas. Adriano sudah bangun. Duduk di kursi dekat jendela, punggung tegak. Setelan abu-abu rapi tanpa lipatan, seolah malam tidak meninggalkan apa pun di tubuhnya. Uap tipis naik dari cangkir di tangannya—satu-satunya gerakan di ruangan itu. Di meja kecil, sarapan tersusun. Rapi. Tepat. Tidak disentuh. Pisau kecil sejajar dengan piring. Cangkir kedua disiapkan—kosong. “Bersiap.” Ia tidak menoleh. Elena turun dari ranjang tanpa menjawab. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia bergerak cepat—air mengalir singkat di wastafel, rambut dirapikan tanpa benar-benar diperiksa, ma
Baca selengkapnya