Pelabuhan tidak pernah benar-benar diam. Bahkan saat pagi belum sepenuhnya matang, logam sudah saling beradu, rantai ditarik, mesin-mesin berat menggeram seperti sesuatu yang tidak pernah tidur. Udara asin bercampur oli menempel di kulit—kasar, nyata, dan terlalu jujur untuk diabaikan. Mobil berhenti. Pintu terbuka. Adriano turun lebih dulu. Tidak ada aba-aba. Tidak perlu. Dua mobil di belakang ikut berhenti serempak. Para pengawal keluar hampir bersamaan—menyebar, mengisi sudut, menutup celah yang bahkan belum terlihat. Mata mereka bergerak cepat, membaca ruang. Elena turun setelahnya. Langkahnya ringan. Matanya tidak. Ia menangkap pola itu—jarak, posisi, tangan yang tidak pernah jauh dari balik jas. Dunia ini tidak berisik karena kacau. Dunia ini berisik karena terkendali. Di depan mereka, sebuah kontainer berdiri dekat dermaga. Catnya kusam, nomor kodenya mulai pudar. Segel bea cukai masih tergantung—sudah dipotong. Sudah dibuka. Sudah diambil kembali.
Baca selengkapnya