Elena mendorong pintu dapur dengan bahu. Nampan masih di tangannya. Ruangan itu luas dan terang, berbeda dari sunyi ruang makan yang baru saja ia tinggalkan. Lampu-lampu putih memantul di permukaan baja dan porselen. Para pelayan berpakaian rapi bergerak cepat dalam ritme yang terlatih—piring berpindah tangan, air mengalir, kain mengusap meja tanpa suara berlebih. Tidak ada yang benar-benar menatapnya. Namun semua sadar ia ada. Seorang pelayan wanita mendekat. Wajahnya datar, profesional. “Tuan Valerius memerintahkan Anda mencuci piring makan malam dan membereskan dapur.” Kalimat itu disampaikan tanpa tekanan, tanpa empati—sekadar informasi yang harus sampai. Elena mengangguk. Refleks, jarinya meremas ujung gaun tepat di tempat luka tipis itu tersembunyi. Perihnya masih ada, berdenyut halus. Ia menahannya agar tak terlihat, agar tak menjadi tontonan kedua malam ini. Ia menaruh nampan. Mengambil karet rambut dari pergelangan tangan. Rambutnya diikat c
Baca selengkapnya