Pintu terbuka tanpa suara yang benar-benar terdengar. Elena masuk lebih dulu. Air dari rambutnya jatuh satu per satu ke lantai marmer, membentuk jejak yang tidak rapi. Gaunnya menempel di tubuh, berat oleh hujan, bukan membentuk—hanya mengikuti. Kakinya tanpa sepatu; lumpur tipis menempel di telapak, tertinggal di setiap langkah. Ia tidak memperlambat. Di belakangnya, Adriano masuk beberapa detik kemudian. Jasnya lembap, garis bahunya tetap rapi. Langkahnya tidak berubah, tetap lurus, tetap stabil, seolah hujan di luar tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Ia melewati jejak itu tanpa menghindar. Air dan lumpur terpotong oleh langkahnya, bukan dihapus. Koridor tidak kosong. Elias sudah di sana. Berdiri di sisi dinding, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak berada di jalur. Elena lewat lebih dulu. Tatapan Elias turun, bukan ke wajahnya, tapi ke air yang jatuh dari ujung rambut, ke kain yang menempel, ke kaki yang meninggalkan garis di lantai. Lalu ke belakang.
Baca selengkapnya