Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Yang Tidak Seharusnya Ada

Share

Yang Tidak Seharusnya Ada

last update publish date: 2026-04-17 22:58:34
Pintu kamar mandi masih tertutup.

Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur.

Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya.

Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh.

Jarinya naik. Berhenti di atas kaca. Tidak menyentuh.

Setengah napas.

Bukan ragu. Menghitung.

Air di dalam berubah tekanan, sedikit lebih keras—lalu kembali. Jarinya turun. Layar mati.

Ia tidak menyalakannya lagi. Gerakannya ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Harga yang Belum Lunas

    Pagi di mansion Moretti berjalan seperti biasa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membaca perubahan kecil.Lift servis tetap naik turun membawa kotak logistik. Langkah staff berderak pelan di lantai marmer koridor timur. Aroma kopi dari dapur menyusup sampai area administrasi, bercampur dengan bau kertas baru dari ruang arsip.Di salah satu koridor dekat sayap keluarga, dua penjaga baru berdiri di depan satu pintu.Tidak banyak bergerak.Tidak saling bicara.Hanya keberadaan mereka yang cukup membuat siapa pun memilih jalur lain.Di dalam ruang kerja, cahaya pagi jatuh miring ke atas meja kayu gelap.Berkas-berkas tertata rapi, garis tepinya sejajar sempurna. Laporan distribusi. Audit. Kontrak buyer.Tak satu pun disentuh.Ponsel Elena tergeletak di sisi kanan meja.Layar gelap.Diam.Adriano sudah berpakaian lengkap.Kemeja putih.Manset terpasang rapi.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jauh Sebelum Hari Ini

    Pintu kamar mandi masih terbuka saat Adriano berbalik. Air menetes dari ujung rambut Elena. Dari dagunya. Dari lengan yang gemetar menahan tubuhnya sendiri. Langkah Adriano sudah mencapai ambang pintu ketika sesuatu menarik ujung celananya. Ia menunduk. Jari-jari Elena mencengkeram kain celananya. Lemah. Basah. Hampir tidak memiliki tenaga. "Tolong." Suara itu pecah di tenggorokannya. Adriano tidak bergerak. Elena menelan napas yang terasa sakit. "Anak-anak di Stella Maris..." Kalimat berikutnya tersangkut. Batuk pendek mengguncang tubuhnya. Air masih terasa memenuhi dadanya. "Mereka tidak tahu apa-apa." Tatapan Adriano turun pada tangan yang mencengkeramnya. Tak lama. Cukup untuk membuat Elena berharap. "Jangan sakiti mereka." Sunyi memenuhi ruangan. Tatapan Adriano tidak berubah. "Kalau nasib mereka bergantung padamu..." Suara itu rendah. Datar. "Terlambat untuk mulai memikirkannya sekarang." Harap

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Pengampunan Berakhir

    Pintu menghantam kusennya. Gaungnya masih bergetar di dinding saat Adriano melepaskan lengan Elena. Dorongan itu membuat tubuh Elena kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai lebih dulu, telapak tangan menyusul. Napasnya tersentak. Sunyi langsung memenuhi ruangan. Adriano tetap berdiri di depan pintu. Tak bergerak. Tatapannya turun ke Elena. Dingin. Kosong. Lebih buruk daripada amarah. "Adriano—" "Aku membiarkanmu tinggal di sini." Kalimat itu memotongnya. Elena membeku. Adriano berjalan mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. "Aku membiarkan Stella Maris tetap berdiri." Rahangnya mengeras. "Aku menghentikan pembongkarannya." Elena merasakan tenggorokannya mengeri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Ia Berhenti Mendengarkanku

    Ponsel itu tergeletak di lantai marmer.Di antara lembar audit yang berserakan.Di dekat bercak darah yang terus menetes dari hidung supervisor distribusi.Tak ada yang bergerak.Napas pria itu terdengar berat. Patah-patah.Monitor transit masih menyala di dinding.Alexandria tetap merah.Tak seorang pun melihatnya.Sebuah getaran pendek memecah ruangan.Layar ponsel menyala.Cahaya putih memantul di marmer.Nama pengirim muncul sesaat sebelum layar meredup kembali.Elena membeku.Di dekatnya, supervisor yang terluka mengerang pelan sambil memegangi rahangnya.Tak ada yang memperhatikannya lagi.Tatapan semua orang tertuju pada benda kecil di lantai.Elena bergerak lebih dulu.Refleks.Jemarinya baru terangkat beberapa inci saat bayangan Adriano sudah menutup cahaya di atas ponsel.Langkahnya berhenti tepat di depan benda itu.Tidak tergesa.Tidak ragu.Ia membungkuk.Mengambilnya.Ruangan tenggelam dalam diam yang lebih pekat.Elena berdiri perlahan.Telapak tangannya terasa dingin.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu Jatuh di Antara Kami

    Tak ada yang sempat bergerak. Kepalan tangan Adriano sudah lebih dulu menghantam. Benturan keras memecah ruangan. Kepala supervisor distribusi terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai marmer. Kursi di belakangnya ikut terguling sebelum membentur kaki meja. Tak ada yang bersuara. Monitor tetap menyala. Barisan data masih memenuhi layar transit. Tak seorang pun melihatnya. Pria itu mengerang pelan sambil menahan rahangnya. Darah mulai muncul di sudut bibir. Adriano berdiri di atasnya. Napasnya stabil. Itu jauh lebih buruk. "Bangun." Supervisor itu mengangkat wajah. Satu tangan menekan lantai untuk menopang tubuh. "Aku tidak mengirim apa pun keluar." Kalimat itu terdengar serak. Adriano mencengkeram bagian depan kemejanya. Tubuh pria itu terangkat sebelum dihantamkan ke sisi meja. Map-map bergeser. Sebuah tablet jatuh dan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   BERDOALAH AKU SALAH

    Pagi belum benar-benar masuk ke dalam kamar saat Elena membuka mata. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Seprai hitam itu rata. Tidak kusut. Tidak menunjukkan bekas seseorang pernah berbaring di sana semalaman. Di dekat jendela, lampu kerja masih menyala. Cahayanya jatuh di atas beberapa map yang terbuka dan secangkir kopi yang tinggal setengah. Permukaannya diam. Dingin. Elena duduk perlahan. Pandangannya bergerak dari kursi kosong menuju meja kerja. Adriano tidak kembali ke tempat tidur. Tangannya masuk ke saku mantel yang tergantung di sandaran kursi. Ponsel kecil itu masih ada. Dingin. Diam. Layar menyala redup saat ia mengaktifkannya. Beberapa pesan baru menunggu. Julian. Buyer mulai menahan escrow. Distribusi semalam berhasil masuk. Tekanan terus naik. Elena membaca sampai akhir. Rahangnya mengeras tipis. Jemarinya bergerak di atas layar. Jangan percepat lagi. Mereka mulai meliha

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Akan Terjadi Sudah Menunggu di Depan

    Pagi datang tanpa suara. Elena tidak tahu apa yang membangunkannya lebih dulu—dinginnya sisi ranjang yang kosong, atau hilangnya sesuatu yang semalam terasa terlalu dekat. Matanya terbuka perlahan. Cahaya di balik tirai masih pucat. Belum cukup terang untuk disebut pagi. Aroma kopi sudah lebih

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu Sudah Menunggu

    Mobil itu sudah menyala saat mereka mendekat. Mesinnya tidak meraung—hanya bergetar pelan, seperti sesuatu yang hidup… dan memilih untuk menahan diri. Para pengawal bergerak lebih dulu. Pintu dibuka. Jalur dibentuk. Rapi. Tanpa celah. Adriano masuk tanpa menoleh. Elena menyusul. Pintu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Aturan Rumah Moretti

    Pintu kamar menutup pelan di belakang Adriano. Bunyinya kecil— tapi cukup untuk mengubah udara di dalam ruangan. Elena langsung berdiri. Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Seolah tubuhnya sudah lebih dulu mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusul. Mangkuk sup hangat i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status