ホーム / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Yang Tidak Seharusnya Ada

共有

Yang Tidak Seharusnya Ada

last update 公開日: 2026-04-17 22:58:34
Pintu kamar mandi masih tertutup.

Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur.

Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya.

Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh.

Jarinya naik. Berhenti di atas kaca. Tidak menyentuh.

Setengah napas.

Bukan ragu. Menghitung.

Air di dalam berubah tekanan, sedikit lebih keras—lalu kembali. Jarinya turun. Layar mati.

Ia tidak menyalakannya lagi. Gerakannya ber
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tersisa Hanya Darah

    Adriano menyusuri koridor dengan pistol masih berada di tangannya. Langkahnya tidak berubah. Marmer memantulkan bunyi sol sepatunya hingga ke foyer. Valerius masih berada di sana. Sendirian. Pria tua itu mengangkat wajah ketika Adriano mendekat. Tatapannya turun pada pistol yang menggantung di sisi tangan putranya. "Mau ke mana?" Adriano terus berjalan. Valerius mengikuti geraknya dengan mata. "Masalah sebenarnya masih di rumah ini, Adriano." Langkah Adriano tidak berhenti. Pintu utama terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya. Ia turun melewati tangga. Pintu mansion menutup di belakang tubuhnya. Sedan hitam meninggalkan halaman. Gerbang besi terbuka sebelum mobil mendekat, kemudian menutup kembali ketika lampu belakangnya menghilang di jalan. Toko-toko di sepanjang jalan telah mematikan sebagian besar lampu. Papan nama masih menyala di beberapa tempat. Sisanya gelap. Adriano menginjak pedal gas lebih dalam. Laut terbentang di sisi kanan. Permuk

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Kesempatan Terakhir Habis

    Gerbang mansion terbuka. Sedan hitam memasuki halaman dan berhenti di depan tangga utama. Adriano turun lebih dahulu. Pintu pengemudi menutup keras. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu Elena, lalu menatapnya. "Turun." Elena melepas sabuk pengaman. Begitu kedua kakinya menyentuh marmer, tangan Adriano sudah mencengkeram lengannya. Tarikannya membuat langkah Elena goyah. Telapak tangannya sempat menyentuh sisi mobil. Adriano tidak menunggu. Mereka masuk ke mansion. Langkah Elena terdengar pendek di atas marmer. Cengkeraman Adriano tidak mengendur sampai mereka melewati foyer. Di ruang tamu utama, Valerius telah berada di kursi rodanya. Seorang pria paruh baya duduk di sofa panjang di hadapannya. Setelan gelap membungkus tubuhnya. Sebuah map tipis terletak di atas lutut. Elias berdiri tak jauh dari rak buku. Percakapan terhenti ketika mereka melewati ruangan. Tatapan Valerius terangkat. Pria di sofa ikut menoleh. "Signore—" Adriano tidak berhenti. Tangannya

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jangan Hubungi Dia Lagi

    Ponsel masih menempel di telinga Julian. Pria di ambang pintu tidak bergerak. Jas hitamnya jatuh rapi sampai ke pinggang. Topi gelap menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang dan sepasang mata yang tak menunjukkan apa-apa. "Halo." Suara dari ponsel akhirnya terdengar. Julian menegang. "Julian. Ini aku, El—" Ponsel turun dari telinganya. Pria itu masuk. Pintu menutup di belakangnya. Klik. "Julian Vane." Julian menatapnya. "Kau yang akan menjelaskan kenapa pasporku bermasalah?" "Tidak." Pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku datang untuk membawamu." Tatapan Julian bergeser ke pintu. "Hidup atau mati." Tangannya masuk ke balik jas. Kilatan logam muncul. Julian bergerak lebih cepat. Telapak tangannya menghantam pergelangan pria itu. Dor! Peluru menembus dinding di belakangnya. Letusan memantul di ruangan sempit. Pria itu langsung maju. Pukulan pertama menghantam rusuk Julian. Udara terlepas dari paru-parunya. Pukulan berikutnya mengenai rahang. Tubu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Keberangkatan yang Tidak Pernah Terjadi

    Papan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menyusuri antrean pemeriksaan dengan tas selempang melintang di dada. Pengumuman keberangkatan dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman di

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Angka Terakhir

    Sedan hitam itu menghilang di balik tikungan. Elena masih memandang jalan yang kosong ketika Bianca mengambil gembor dari atas batu. "Kalau terus melihat ke sana, bunga-bungaku akan cemburu." Senyum kecil muncul di wajah Elena. "Maaf." Bianca tertawa pendek. "Ikut aku." Mereka meninggalkan gazebo, melewati rumpun lavender yang bergerak diterpa angin laut. Beberapa bunga telah mekar penuh, sementara kuncup-kuncup kecil masih bersembunyi di antara daun. "Kau suka bunga?" "Iya." "Ada yang pernah kau tanam?" Elena mengangguk. "Dulu aku menemukan bunga liar di pinggir pantai." "Di pantai?" "Di antara batu." Senyumnya tipis. "Aku membawanya pulang." "Berhasil hidup?" "Sebentar." Bianca tersenyum. "Itu sudah cukup." Langkah mereka berhenti di depan petak bunga yang lebih rimbun. Kelopak-kelopak putih dan merah muda memenuhi batang-batang yang tumbuh rapat. "Yang ini sedang banyak dicari." Elena mendekat. "Untuk apa?" "Hiasan rumah. Istri-istri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Tidak Ada

    Langkah Elena berhenti di sisi mobil. Adriano turun menyusul. Pintu sedan menutup pelan di belakangnya. "Ayo." Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan bunga. Perempuan yang tadi memegang gembor telah meletakkannya di atas batu pipih. Celemek berkebunnya diseka singkat dengan telapak tangan sebelum ia menghampiri mereka. "Akhirnya." Senyumnya mengembang hangat. "Kau datang juga." Elena membalas dengan senyum kecil. "Baru sempat." "Aku sudah menunggu cukup lama." Nada itu terdengar lebih seperti candaan daripada keluhan. Bianca berbalik. "Ikut denganku." Jalan setapak berbelok ke sisi rumah. Semak lavender bergoyang pelan diterpa angin laut. Di balik lengkungan bunga rambat berdiri sebuah gazebo kayu yang menghadap tebing. Meja bundar telah tertata rapi. Cangkir-cangkir porselen berukiran bunga diletakkan berdampingan dengan sebuah toples kaca berisi daun teh kering dan sepiring kecil kue mentega yang baru matang. Bianca menoleh ke arah

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Nama Itu Mulai Mendekat

    Mansion Moretti berdiri jauh dari kebisingan pelabuhan, seolah dunia luar tak pernah menyentuhnya. Sinar matahari sore menembus jendela tinggi, menyorot debu yang menari di udara. Lantai marmer hitam mengilap, refleksi kaki menekankan kesunyian yang hampir mematikan. Langit-langit tinggi dan dindin

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Rumah Menjual Penghuninya

    Debu pelabuhan Genoa selalu menemukan jalannya sendiri. Ia menyelinap lewat celah pagar besi panti Stella Maris, menempel di sepatu-sepatu kecil yang berjejer di rak kayu, lalu hinggap di meja dapur yang catnya mengelupas. Debu itu membuat segalanya tampak kusam—kecuali satu hal. Sebuah amplop

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status