Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Ia Tidak Memberinya Pilihan

Share

Ia Tidak Memberinya Pilihan

last update publish date: 2026-04-21 19:17:40

Pintu terbuka tanpa suara yang benar-benar terdengar.

Elena masuk lebih dulu.

Air dari rambutnya jatuh satu per satu ke lantai marmer, membentuk jejak yang tidak rapi. Gaunnya menempel di tubuh, berat oleh hujan, bukan membentuk—hanya mengikuti. Kakinya tanpa sepatu; lumpur tipis menempel di telapak, tertinggal di setiap langkah.

Ia tidak memperlambat.

Di belakangnya, Adriano masuk beberapa detik kemudian.

Jasnya lembap, garis bahunya tetap rapi. Langkahnya tidak berubah, tetap lurus, tet
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Pernah Sedekat Ini

    Pintu kamar menutup. Klik. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Adriano melepaskan jasnya. Kain itu berpindah ke sandaran kursi. Jemarinya membuka kancing pertama kemeja, disusul yang kedua. "Elena." Perempuan itu masih berdiri membelakangi pintu. "Ya." "Isi bak mandi." Elena menoleh. "Air hangat?" "Air dingin." Tatapannya singgah sesaat pada wajah Adriano. "Baik." Ia menuju kamar mandi. Sumbat pembuangan ditekan hingga rapat. Kran diputar. Air jatuh menghantam dasar bak, memenuhi ruangan dengan gemericik yang pelan namun terus-menerus. Elena berdiri di sisinya. Permukaan air sedikit demi sedikit naik, menelan dinding porselen. Langkah terdengar di belakangnya. Adriano masuk. Kemejanya telah terlepas. Memar di rahang kiri tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu. Garis kemerahan di rusuk kirinya belum sepenuhnya memudar. "Sudah?" "Hampir." Air baru melewati separuh bak. Tanpa menunggu lebih penuh, Adriano melangkah masuk. Air dingin beriak mengelilingi tubuh

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Sulit Baru Dimulai

    Pecahan kaca berderak pelan di bawah telapak sepatunya. Julian tak menoleh. Ruang tamu apartemen di lantai bawah gelap. Cahaya lampu pelabuhan menyusup melalui jendela, memantulkan bayangan panjang di lantai. Tangannya meraba sisi pinggang. Perih. Saat ditarik kembali, jemarinya berlumur darah. Serpihan kaca. Bukan luka tembak. Napas pendek keluar dari sela bibirnya. Daun pintu dibuka sedikit. Koridor di luar lengang. Tak terdengar langkah. Tak ada pintu yang terbuka. Julian keluar. Punggungnya menempel sesaat pada dinding. Tatapannya menyapu lorong. Kosong. Ia bergerak menuju tangga darurat. Pintu besi didorong. Engselnya berdecit lirih. Anak-anak tangga dituruni dua, tiga sekaligus. Napasnya memantul di ruang sempit yang dipenuhi aroma semen dan cat tua. Di setiap belokan kepalanya terangkat. Tak ada siapa pun. Tangannya meraih pagar besi. Turun lagi. Lantai demi lantai terlewati. Begitu pintu terakhir terbuka, udara dingin parkira

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tak Semua Orang Berhasil Keluar

    Asap tipis masih menggantung di depan moncong pistol. Laras itu tetap mengarah ke balik sofa. "Keluar." Sunyi. "Aku tahu kau di sini." Tak ada jawaban. Di balik sandaran yang berlubang oleh peluru, Julian menahan napas. Pandangannya menyapu ruangan. Pintu kamar telah dipotong oleh tubuh pria itu. Balkon terlalu jauh. Kamar mandi sudah kehilangan separuh pintunya akibat benturan. Tak ada tempat yang benar-benar aman. Jarinya menyentuh lantai. Dingin. Pelatuk kembali ditekan. Dor. Busa sofa pecah. Serpihannya beterbangan ke wajah Julian. Tubuhnya langsung berguling ke sisi ranjang. Bahunya menghantam kaki tempat tidur sebelum menyelinap ke kolong. Gelap menyambut. Dari sela rendah itu hanya sepasang sepatu hitam yang terlihat. Langkah itu mendekat. Berhenti. Sofa tiba-tiba terangkat. Brak! Rangka kayunya menghantam dinding hingga retak. Tempat persembunyian yang tadi kosong berubah menjadi puing. Sepatu hitam kembali bergerak. Pelan. Mencari. Angin malam mene

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Terlambat Menyadarinya

    Klik. Gagang pintu berputar. Jemari Elena langsung membeku di atas layar. Tulisan yang baru berhenti di tengah kalimat lenyap ketika ibu jarinya menekan tombol pengunci. Cahaya ponsel padam. Benda itu kembali ke sudut meja, tepat di tempat semula. Kertas kecil di dalam saku mantelnya menempel tipis di sisi pinggang. Pena telah kembali berada di jemarinya saat pintu terbuka. Adriano masuk lebih dulu. Seorang pria menyusul di belakangnya. Jas abu-abu tua membungkus tubuhnya dengan rapi. Sepatu kulitnya memantulkan cahaya lampu. Sebuah map kulit tipis berada di bawah lengannya. "Silakan duduk." Pria itu mengangguk. Ia memilih sofa di dekat jendela. Satu kaki menyilang di atas lutut. Elena tetap menatap berkas. Ujung penanya bergerak dari satu angka ke angka berikutnya. "Maaf kalau kedatangan saya mengganggu, Signora." Baru kali itu Elena mengangkat wajah. "Tidak apa." Tatapannya kembali jatuh ke lembar laporan. Adriano membuka lemari kayu di belakang meja. Deretan katal

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sebelum Semuanya Terlambat

    Koridor lantai atas terbentang sunyi. Langkah Adriano bergema pelan di atas marmer. Elena mengikutinya tanpa berusaha menyamai langkah itu. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi, memanjang di sepanjang dinding hingga berhenti di depan pintu ruang kerja. Adriano memutar gagang pintu. Daun pintu terbuka. Ia masuk lebih dulu. Tas kulit berpindah ke atas meja. Disusul map-map proyek yang sejak tadi dibawa dari foyer. Jemarinya membuka pengunci tas, mengeluarkan beberapa berkas, lalu menyusunnya menjadi dua tumpukan. Elena masih berdiri di dekat pintu. "Maaf." Adriano tidak mengangkat kepala. "Untuk apa." "Soal alarm tadi." Suara Elena pelan. "Aku tidak bermaksud membuat rumah ini gaduh." Satu lembar laporan berpindah ke atas meja. "Kau belum pernah menggunakan kunci mobil." Elena menunduk sesaat. "Tidak ada yang mengajariku." Adriano merapikan sudut map yang tidak sejajar. "Kalau begitu belajar." Tak ada lagi yang diucapkan. Tatapan Elena

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Restu yang Tidak Pernah Ada

    Tin. Tin. Tin. Suara alarm memantul di halaman depan mansion. Anjing-anjing penjaga di sisi belakang rumah ikut menggonggong. Burung-burung beterbangan dari pucuk cemara. Dua penjaga yang tengah berjaga di dekat gerbang serempak menoleh. Elena menarik kunci menjauh dari pintu sedan. Napasnya belum kembali teratur. Anak kunci itu dipandang beberapa saat sebelum kembali diarahkan ke lubang kunci. Meleset. Ia mengembuskannya pelan. "Signora." Suara itu datang dari samping. Dua penjaga telah berdiri beberapa langkah darinya. Elena mengangkat wajah. "Aku ingin mengambil map milik Signore." Tangannya mengangkat kunci yang masih digenggam. "Tapi mobilnya tiba-tiba berbunyi." Kedua penjaga saling bertukar pandang. Tak satu pun segera bergerak. "Signore akan bekerja dari rumah." Baru setelah nama itu disebut, salah seorang mengulurkan tangan. "Biarkan saya." Elena menyerahkan kunci tersebut. Pria itu menekan sebuah tombol. Alarm langsung terdiam. Keheningan kembali mem

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status