Yasmin terbangun dengan kepala yang berdenyut. Ia duduk perlahan, menahan rasa pusing yang menyerang saat tubuhnya bergerak tegak. Tangannya memegang sisi ranjang untuk menyeimbangkan diri, matanya menyapu ruangan dalam keheningan yang mencekam.“Kamar Yasmina,” lirihnyaTangannya bergerak ke lehernya secara refleks, menemukan balutan kain putih yang dililitkan rapi di sekitar lukanya. Kejadian semalam kembali berputar di kepalanya Hutan. Kabut. Voya, Buku Throne of Thorn, Cahaya, Yasmina, hingga Erion yang menariknya menjauh dari portal.Yasmin memejamkan matanya. Buku yang sudah tidak ada. Pintu sudah tertutup, dan entah kapan ia bisa menemukan portal itu lagi. Air mata pertama jatuh tanpa peringatan.“Seharusnya aku sudah pulang sekarang,” bisiknya di antara isakannya. Suaranya pecah penuh rasa sakit. “Seharusnya aku sudah di sana. Di duniaku.”Yasmin menarik lututnya ke dadanya, memeluknya erat, dan tangisannya pecah sepenuhnya. Bukan tangisan yang tertahan, tapi tangisan yang ben
Read more