“Katakan semuanya,” perintah Erion.Erion berdiri di depan meja peta, tangannya bertumpu di pinggiran kayu, matanya menyapu jalur-jalur yang sudah dihafalnya sampai ke lipatan terkecil. Di sampingnya, Marib berdiri dengan postur yang terlalu kaku untuk sekadar melaporkan kabar biasa.“Pasukan kita di jalur Utara dan Timur terpaksa mundur kemarin malam. Begitu pengiriman tidak datang, koordinator lapangan memutuskan menarik mundur sebelum pos pemeriksaan bergerak melakukan sweeping rutin.” Ia berhenti sejenak. “Jalur Selatan lebih buruk.”“Berapa orang?”“Dua puluh, Baginda.”Ruangan itu sunyi. Mata Erion menyipit tajam.“Dua puluh orang kita tertangkap di pos perbatasan Selatan,” lanjut Marib. Suaranya datar, terkontrol, tapi ada sesuatu di bawah permukaannya yang tidak sepenuhnya terkendali. “Mereka tidak membawa senjata karena mengikuti protokol, hanya dokumen palsu sebagai kurir karavan. Mereka di anggap illegal di jalur itu, karena dokumen itu tidak cukup kuat, dan pemeriksaan cuk
Read more