“Tuan Putri,” bisik Voya, suaranya mengandung nada menggoda yang jarang ia gunakan. “Hamba harus jujur, semalaman hamba nyaris tidak bisa memejamkan mata. Jantung hamba rasanya mau melompat setiap kali mendengar langkah kaki di koridor.”Yasmin menghela napas, menatap bayangannya sendiri di cermin yang sedikit buram. Di depan meja rias itu, ia duduk dengan punggung tegak, sementara Voya berdiri di belakangnya, menyisir helai-helai rambut hitam sang Putri dengan saksama.“Aku tahu, Voya. Maafkan aku karena membuatmu terjaga,” gumam Yasmin pelan.Elara sedang merapikan lipatan tirai sutra di sudut ruangan, telinganya tajam, menangkap setiap percakapan mereka berdua.“Ah, bukan itu maksud hamba!” Voya terkikik renyah, sebuah suara yang seketika membuat gerakan tangan Elara terhenti. “Maksud hamba, rasa cemas itu menguap begitu saja saat melihat siapa yang mengantar Anda pulang. Apalagi saat Panglima Arberi berdiri di ambang pintu... Ampuni hamba, Dewa, tapi hamba belum pernah melihat bel
Read more