Erion melangkah tergesa menuju ruang bawah tanah, seketika setelah mendengar laporan Kael mati di penjara bawah tanah. Saat pintu besi yang berat itu terbuka, aroma anyir darah dan lembapnya tanah langsung menyambut indra penciumannya. Di sana, Marib dan Elara sudah berdiri menunggunya.“Kenapa kau ada di sini, Elara?” tanya Erion datar, matanya menyapu tubuh kaku Kael yang tergeletak di sudut sel.“Kami sedang berada di pasar rakyat saat laporan kematian ini sampai, Baginda,” jawab Marib mewakili. “Hamba membawa Elara sekalian karena, dia sedang tidak memiliki tugas di paviliun.”Erion menaikkan sebelah alisnya. “Tidak memiliki tugas?”“Benar, Baginda,” lanjut Marib dengan nada sedikit tidak senang. “Pagi tadi saat Elara hendak masuk ke paviliun Putri Yasmina untuk bekerja, dia mendapatkan penolakan keras. Voya mengatakan bahwa atas perintah langsung dari Putri Yasmina, Elara dilarang menginjakkan kaki lagi di sana.”Erion memejamkan matanya sejenak. Ia tidak terkejut. Mengingat ker
Read more