“Kau keterlaluan, Erion!” Ohmad membuka pembicaraan dengan penuh ancaman. “Di depan para penjaga, pelayan, kau mendekap, menyentuh Yasmina seolah-olah dia adalah barang rampasan perangmu. Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau sedang menghancurkan martabatnya sebagai Putri Pervane!”Ohmad berdiri di balik meja besarnya, kedua tangannya menumpu pada krdua sisi kursinya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Ia menatap tajam ke arah Erion yang, dengan segala keangkuhannya, dan menunjukan ia adalah pemilik ruangan itu.Erion yang bersandar dengan angkuh di kursi tamu, menempatkan dirinya seolah dialah penguasa sebenarnya di ruangan itu. Ia mengangkat bahu, jarinya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi.“Martabat?” Erion mendengus pelan, hampir menyerupai tawa sinis.“Adikmu hampir mati. Jika aku harus memilih antara menjaga martabatnya atau menjaga agar jantungnya tetap berdetak, maka aku akan membakar seluruh buku tata krama Pervane-mu itu sekarang juga demi permaisuriku tetap hidup.”“Ini
Read more