"Kenapa kau diam, Alina? Jawab aku!" sentak Marvin dengan suara bergetar, menatap sendu wajah istrinya yang enggan menatapnya. "Bicara padaku, Alina! Jangan bersikap seperti ini. Kau membuatku tersiksa."Alina tetap memejamkan mata, memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah jendela. "Sudah tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan dengan mu, Marvin. Kau boleh mengunci tubuhku, tapi hatiku sudah mati untukmu. Kau membuatku muak.""Aku tidak peduli! Kau boleh marah denganku, meluapkan kesal mu kepadaku, tapi tolong jangan acuhkan aku, Alina!" raung Marvin frustrasi, memukul sandaran kursi di depannya hingga Leo yang menyetir tersentak kaget. "Walaupun hatimu mati, tubuh mu dan hidup mu tetap milikku! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku! Aku peduli dengan mu, Alina. Aku mencintai mu," ucap Marvin dengan wajah frustasi."Jangan katakan itu cinta, Marvin. Aku sudah muak dengan semua itu. Selama ini kau tidak benar-benar mencintai aku.""Bagaimana caranya aku membuktikan kepadamu, Alina?"
Mehr lesen