"Istirahat lah. Aku tidak akan menggangu mu, Alina."Pintu kamar rawat perlahan tertutup rapat. Begitu sosok Marvin menghilang, pertahanan Alina seketika runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah, meremas kuat sprei rumah sakit yang dingin.Di luar ruangan, Marvin menyandarkan punggungnya pada dinding. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Leo yang berdiri tak jauh darinya."Tuan Marvin... Apa kau baik-baik saja?" panggil Leo ragu, melangkah mendekat."Aku baik-baik saja, Leo," jawabnya berbohong."Dokter sudah menyiapkan resep obat untuk Nyonya Alina. Ini resepnya," ucap Leo memberikan secarik kertas surat resep kepada Marvin."Tinggalkan di meja," potong Marvin dingin dengan suara parau. "Leo, hubungi pengacara pribadi keluarga Vance sekarang juga."Leo tertegun. "Pengacara? Untuk apa, Tuan?""Aku akan mengurus surat pengakuan anak dan pemberian nama belakang untuk bayi Lenika," jawab Marvin tegas, matanya memerah menatap pintu kamar istrinya. "Tuan... Apa kau y
Read more