"Ada apa, Lenika?" tanya Marvin yang sempat menyadari perubahan raut wajah wanita itu saat berdiri di ambang pintu.'Apa ini hanya perasaanku saja? Marvin bahkan tidak menyadari Alina bisa melihat. Mungkin itu hanya perasaan ku saja,' batin Lenika dalam hati.Lenika menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap Alina yang kini kembali bersikap layaknya orang buta, meraba lengan Marvin dengan lembut."T-tidak ada, Marvin... Aku hanya masih sangat syok dengan apa yang terjadi dengan ku, Marvin," kilah Lenika terbata-bata, menyembunyikan kepanikan hebat yang membakar dadanya."Baiklah. Jika butuh sesuatu, katakan pada pengawal di luar, jangan sungkan untuk meminta bantuan," ucap Marvin tegas sebelum merangkul Alina dan melangkah keluar dari kamar VIP tersebut."Oke, terima kasih, Marvin." Lenika mengangguk, lalu menatap punggung Marvin dan Alina pergi***Di dalam mobil mewah yang melaju tenang menuju kediaman Vance, Marvin tak henti-hentinya menggenggam jemari Alina
Read more