Pria tua itu membalikkan badannya, menatap kembali ke arah pintu kayu yang baru saja ia tutup. Lalu ia menoleh lagi ke arah pintu.Paranoia dan instingnya sebagai mantan mafia pelabuhan yang telah menyelamatkannya berkali-kali di masa lalu, kini bereaksi dengan sangat tajam."Tadi, saat aku bergegas keluar karena teriakan Menur ... aku lupa mengunci pintu ruang kerja ini," ucap Broto pada dirinya sendiri, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat dingin. "Itu benar. Aku ingat tidak memutar kuncinya."Broto kembali turun dari tangga dan melangkah mendekati daun pintu, matanya menyapu setiap incinya. Lalu membuka pintu perlahan."Tapi …," lanjut Broto, jantungnya mulai berdegup lebih cepat, "saat aku masuk tadi ... pintu ruang kerja ini tidak terbuka sedikit pun. Pintunya tertutup sangat rapat. Padahal aku ingat betul, karena panik, aku membiarkannya sedikit terbuka!"Broto menelan ludahnya. Kewaspadaannya memuncak."Bukan hanya itu," geram Broto, matanya kini menatap nanar ke
Read more