Broto Sasmita melangkah keluar dari kamar utama dengan tumpuan tongkat peraknya yang berketuk lambat di atas lantai jati. Langkahnya terasa begitu berat, seolah beban dosa masa lalu seberat Batavia ikut bergelayut di pundaknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada istri pertamanya, ia menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan. Ia butuh ruang kerja yang sepi. Ia butuh segelas tuak atau cerutu untuk meredakan badai paranoid dan kenangan berdarah tentang Baskoro yang tiba-tiba bangkit dari kubur batinnya.Begitu deru langkah kaki suaminya menghilang di ujung koridor lantai dua, Lastri segera bergerak. Dengan terburu-buru, jemari halusnya memutar anak kunci kuningan pada pintu kamar hingga terdengar bunyi klik yang solid. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, napasnya naik turun tak beraturan di balik balutan kebaya sutra tipisnya.Detik itu juga, ada dorongan kuat di dalam dadanya yang mendesak untuk segera keluar, menuruni anak tan
อ่านเพิ่มเติม