Arka menatapnya, sorot matanya gelap seperti tinta. Tenang, namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergolak—aroma tubuh Keira.Kata-katanya yang berani tadi, semuanya mengusik kendali diri yang selama ini ia banggakan. Provokasi wanita ini sudah terlalu jauh. Tiba-tiba Arka bergerak, satu tangannya langsung melingkari pinggang ramping Keira, menahannya agar tidak bisa mundur.Tangan lainnya mencubit dagunya, memaksanya menatap lurus ke matanya.“Keira Adhistya,” suara Arka menjadi rendah dan serak. “Apakah kau sadar…” Tatapannya mengeras. “Bahwa bermain api bisa membuatmu terbakar?”Sentuhan jarinya terasa panas, bapasnya menyentuh wajah Keira. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti percikan api yang mengenai saraf Keira.Wanita itu menatap wajah Arka yang begitu dekat. Agresi yang jelas di matanya membuat tubuhnya terasa lemas, ia ingin membalas. Namun entah kenapa, semua kekuatannya seperti menghilang.Bibirnya sedikit terbuka, desahan lembut keluar tanpa ia sadari.
Read more