Kerumunan itu meledak dalam satu tarikan napas.“Serang!”Teriakan itu menggema, diikuti gelombang manusia yang bergerak serentak dari segala arah, mereka menggulung masuk seperti arus pasang yang tak bisa dibendung.Di tengah kekacauan itu, Arka tetap berdiri tegak.Di sampingnya, Garuda Hitam menyeringai, sorot matanya justru menyala antusias. “Lumayan juga,” gumamnya santai. “Sudah lama aku tidak merasakan pertarungan seperti ini.”Arka hanya melirik parang di tangannya, bilahnya masih basah oleh darah. Ia lalu menjawab singkat, “Fokus.”Ia menoleh ke belakang.Calista masih mencengkeram pakaiannya sendiri. Wajahnya pucat, napasnya tersendat, jelas belum pulih dari tekanan.Arka mendekat, meraih tangannya.Sentuhan itu hangat dan kontras dengan hawa dingin kematian yang menyelimuti tempat itu.“Bersembunyi di sana,” ucapnya pelan, menunjuk ke arah sangkar besi di sudut ruangan. “Jangan keluar.”Ia berhenti sejenak, menatap langsung ke matanya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”Calis
Mehr lesen