LOGINTopeng Algojo sedikit memalingkan kepala. Perintah berikutnya ditujukan kepada bawahannya yang masih berlutut, pengemudi, serta para penjaga di barisan depan. “Aktifkan rencana B.”Suasana di dalam mobil seketika berubah.“Ledakkan seluruh bahan peledak yang sudah ditanam di kompleks Keluarga Wijaksana pada titik-titik peledakan yang telah ditentukan. Setelah itu, perintahkan unit artileri di luar untuk mengubah koordinat dan lakukan bombardir menyeluruh ke seluruh area inti kompleks.”Nada suaranya tetap tenang saat mengucapkan kalimat terakhir, seolah-olah keputusan yang hendak diambilnya sama sekali bukan sesuatu yang besar. “Aku ingin tempat ini lenyap dari peta.” Tatapannya menembus hujan yang turun deras. “Termasuk semua orang yang masih bernapas di dalamnya.”Perintah itu membuat seluruh isi mobil seakan membeku. Bawahan yang masih berlutut mendadak mengangkat kepala, kedua matanya membesar di balik topeng logam.“Tuan, tidak bisa! Masih ada banyak penjaga kita di dalam komplek
BRAK!Panel pintu melengkung ke dalam dan mekanisme penguncinya patah. Tanpa membuang waktu, Arka, Niko, dan Arga menerobos masuk ke koridor sempit di belakang aula.Suasana di dalam koridor jauh lebih gelap dan ruang geraknya terbatas. Rentetan tembakan masih terdengar dari aula utama, tetapi dinding tebal untuk sementara menahan sebagian besar suara dan memberi mereka kesempatan untuk menjauh dari kepungan.Sayangnya, mereka belum sempat memulihkan napas ketika suara langkah kaki terdengar dari balik tikungan.Para penjaga lain sedang menuju ke arah mereka.“Lewat sini!” Arka segera melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit di sisi koridor. Dari celahnya, ia bisa melihat bagian dalam yang menyerupai ruang penyimpanan.Ketiganya langsung masuk. Arka menutup pintu perlahan, lalu mereka bertiga merapat ke dinding sambil mengatur napas yang memburu. Tidak ada seorang pun yang berbicara karena langkah para penjaga di luar terdengar semakin dekat.Arka sempat mengira mereka telah mendapat
Pada saat yang sama, tubuh yang baru saja ditebas Arka dan dihujani peluru Niko tiba-tiba kehilangan bentuk. Sosok itu melorot dari kursi seperti karung kosong, memperlihatkan rangka penyangga rumit beserta kabel-kabel yang tersembunyi di dalam kursi obsidian.“Boneka?” Mata Arka langsung menyipit. Mereka telah masuk ke dalam perangkap.“Waspada!”Begitu peringatan itu terdengar, suara rentetan senjata langsung menggelegar dari berbagai arah. Tirai dekoratif yang mengelilingi aula ternyata menyembunyikan sejumlah posisi tembak, lantai di beberapa bagian terbuka menjadi kompartemen rahasia.Sementara bayangan di sekitar kubah tinggi juga berubah menjadi titik penembakan. Setidaknya sepuluh pria bersenjata yang sudah menunggu sejak awal melepaskan tembakan secara serentak, membuat hujan peluru menyapu seluruh bagian tengah aula.Inilah jebakan sebenarnya, Topeng Algojo sama sekali tidak berada di ruangan itu. Ia sengaja meninggalkan boneka yang dibuat menyerupai dirinya. Ia menempatkan
Belum sempat tubuh kedua penjaga itu menyentuh lantai, tiga orang patroli muncul dari ujung koridor. Arka dan Arga langsung melesat maju dengan kecepatan tinggi, menyergap mereka sebelum sempat membentuk formasi.Semuanya berlangsung dalam hitungan detik. Arka menebaskan belatinya ke leher penjaga pertama, sementara Arga menusukkan pisau pendeknya tepat ke dada penjaga kedua. Penjaga ketiga baru sempat mengangkat senjata ketika Niko muncul dari sisi bayangan, satu tangannya membekap mulut dan hidung korban, sedangkan tangan lainnya mengunci leher hingga napasnya terputus.Hanya dalam lima detik, pertempuran berlangsung sebelum ketiga penjaga patroli terkapar tanpa sempat mengeluarkan suara.Dari posisi pengawasannya, Garuda Hitam tetap mengarahkan teropong bidiknya ke berbagai sudut koridor untuk memastikan tidak ada penjaga lain yang menyadari apa yang baru saja terjadi.“Jalur sudah bersih, kalian bisa masuk ke aula utama.”Arka mengibaskan sisa darah dari ujung belatinya. Tatapanny
Setelah suara langkah mereka menjauh, Arka dan Arga kembali bergerak. Keduanya melintasi jalan batu yang licin dengan cepat, lalu menghilang ke balik rumpun bambu. Gemerisik dedaunan bambu segera bercampur dengan suara hujan, menelan jejak pergerakan mereka."Di sudut tenggara bangunan utama ada sebuah jendela kecil yang masih terbuka." Garuda Hitam kembali melaporkan. "Ada kemungkinan itu digunakan untuk ventilasi atau pengamatan. Dua penjaga tetap berada di pintu lantai dasar. Selain itu, ada tiga penjaga yang berpatroli di koridor dengan interval sekitar dua menit."Laporannya singkat dan akurat.Arka tidak perlu bertanya lagi, target mereka sudah jelas. Mereka harus menemukan Topeng Algojo dan menghabisinya.Dari seluruh bangunan di kompleks tersebut, satu bangunan terlihat paling kokoh sekaligus paling sentral. Aula utama sangat mungkin menjadi tempat Topeng Algojo berada."Arga, awasi penjaga tetap di gerbang." Arka berbicara pelan sambil terus bergerak menembus rumpun bambu. "N
"Situasi aman." Arka berbisik melalui headset, nyaris tanpa suara.Di belakangnya, Arga, Niko, dan Garuda Hitam keluar secara bergantian. Mereka segera menyebar dan mengambil posisi pengamatan di beberapa titik sekitar gubuk.Keempatnya telah menutupi wajah serta bagian tubuh yang terbuka dengan cat kamuflase khusus. Seragam tempur gelap yang mereka kenakan menyatu dengan lingkungan malam, perlengkapan mereka telah disamarkan agar tidak memantulkan cahaya dan menimbulkan suara.Dalam remang-remang hujan, mereka hampir tidak terlihat selain sebagai bayangan yang bergerak di antara pepohonan.Arka mengangkat tangan, lalu memberi isyarat kepada Niko. "Pos penjagaan tiga puluh meter di depan kirimu. Bersihkan diam-diam."Di balik hujan terlihat sebuah pos jaga kayu yang berdiri agak terpisah dari tembok utama. Lampunya redup. Seorang penjaga berada di dalamnya dalam posisi duduk, kepalanya tertunduk karena tertidur sambil masih memegang senjata.Pos kecil itu merupakan salah satu titik le
“Apa… yang Ayah inginkan?”Suaranya rendah, serak, dan penuh tekanan. Seolah jika jawaban yang diterima tak sesuai harapan, sesuatu akan meledak di tempat itu.Di sampingnya, Reno langsung merasakan atmosfer berubah. “Kak, tenang,” bisiknya cepat, mencoba meredakan ketegangan.Namun Surya justru te
Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di
Setelah gelombang gairah yang panjang akhirnya mereda, kamar tidur kembali diselimuti keheningan hangat yang samar. Mireya bersandar nyaman di pelukan Arka, ujung jarinya bergerak malas, menggambar lingkaran kecil di bekas luka di dada pria itu. Napasnya masih sedikit berat, namun ekspresinya penuh
Lampu bedah menyala terang, menyorot luka mengerikan di punggung Arka.Vanessa mengenakan sarung tangan steril, pikirannya sepenuhnya bersih dari gangguan. Instruksinya jelas, cepat, dan presisi saat ia memimpin tim.







