“Racun Erosi,” Arka berbicara pelan sambil mengambil sedikit cairan menggunakan ujung jarinya. “Kalau benda ini dioleskan ke luka…” Ia mengangkat tangannya perlahan, lalu menghentikannya tepat di depan wajah wanita itu. “Rasa sakitnya akan terasa seperti tulangmu dikikis sedikit demi sedikit dari dalam tubuh.”Tubuh Akari langsung menegang.Namun Arka belum berhenti, ia kembali mengambil beberapa botol lain dari atas meja, lalu menyusunnya satu per satu di depan Akari.“Serbuk Penghenti Nadi, Bubuk Halusinasi, dan beberapa racun saraf lainnya.”Nada bicaranya tetap stabil, nyaris terdengar datar seperti sedang menjelaskan daftar obat biasa. Justru ketenangan itu membuat tekanan di ruangan terasa semakin mengerikan.Arka kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Akari. “Semua benda ini milikmu sendiri,” sorot matanya dingin dan tajam. “Menurutmu…” ujung jarinya kembali mengangkat cairan biru kehijauan tadi, “Apa yang akan terjadi kalau aku mulai memakai semuanya satu per satu padamu?”
Read More