Arka tidak segera menyahut. Tubuhnya sempat limbung satu langkah ke depan sebelum akhirnya berhenti dan berdiri tegak, seakan seluruh raganya telah dipahat menjadi patung batu yang tak bernyawa.Namun jauh di dalam dadanya, sekat pertahanannya runtuh secara brutal. Kemarahan, kesedihan, penyesalan, dan kebencian meluap seketika, bergolak hebat bagai magma panas yang berbenturan dengan es abadi, nyaris menggilas habis akal sehatnya. Dia ingin meraung sekeras-kerasnya, ingin menghancurkan apa saja, ingin menjagal setiap manusia yang bertanggung jawab atas tragedi ini.Tetapi tidak, Arka mencengkeram erat kewarasannya, menekan semua badai emosi itu dalam-dalam, menguncinya di palung hati yang paling gelap.Perlahan, dia mengangkat kepalanya. Tak ada lagi riak emosi di wajahnya, tak ada lagi amarah yang menggebu. Namun, kekosongan itulah yang justru memancarkan kengerian murni. Ketenangan yang menyelubunginya saat ini bukan lagi ketenangan manusia biasa, melainkan ketenangan mutlak dari se
Read more