Perjalanan kembali dari barak para pengawal menuju wisma tamu terasa lebih panjang daripada biasanya. Alize berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong batu Biara Dunholm, sementara Greta mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Matahari siang mulai bergeser ke arah barat. Cahaya keemasan yang menembus jendela-jendela tinggi memantulkan warna hangat di lantai batu, tetapi keindahan itu nyaris tidak menarik perhatian Alize. Pikirannya masih tertinggal di aula makan klinik. Pada secangkir teh dan senyum lembut Fran. Dan pada kalimat yang terus berulang di dalam benaknya. Secangkir teh... dan sedikit istirahat akan membuat perasaan Yang Mulia menjadi lebih baik. Semakin ia mengingatnya, semakin sesak dadanya. "Yang Mulia?" Suara Greta membuyarkan lamunannya. Mereka sudah tiba di depan kamar. Begitu pintu tertutup, Greta langsung menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. "Apakah Yang Mulia masih lapar?" Alize menggeleng pelan. "Saya tadi melihat
Read more