Alize tidak segera menjawab. Ia menunduk, menatap buku yang sudah tidak lagi ia baca. Ujung jarinya masih bertumpu pada sampulnya, tetapi pikirannya telah jauh meninggalkan halaman-halaman itu. Selama berhari-hari sejak kembali ke Kastil de Mably, ia terus memikirkan masa depannya bersama Corentine. Dulu, ia selalu membayangkan masa depan mereka memiliki batas yang jelas. Ada sebuah perjanjian. Ada sebuah penyelidikan yang harus mereka selesaikan. Dan setelah semuanya berakhir, mereka akan berpisah. Sesederhana itu. Atau setidaknya, dulu ia mengira demikian. Perlahan Alize mengangkat wajah. Corentine masih menatapnya. Pria itu tidak mendesak. Tidak pula mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya. Ia hanya menunggu. “Kau bilang kau rindu padaku di hari pertama aku datang,” ujar Alize akhirnya. Corentine mengangguk kecil. “Dan kau menjawab bahwa kau juga merindukanku,” ujarnya. Alize tersenyum samar. “Benar.” Ia m
Read more