LOGINStadion Arena J-City malam ini berubah wujud menjadi lautan cahaya yang teramat menakjubkan.Puluhan ribu pasang mata tumpah ruah memenuhi setiap sudut tribun hingga area festival, menggemakan sorak-sorai penuh antusias yang bergemuruh membelah malam.Udara dipenuhi oleh aroma kehebohan, kilatan lampu lightsticks berwarna-warni yang berdenyut seirama, serta dentuman musik latar yang membakar adrenalin siapa saja yang mendengarnya.Ini bukan sekadar konser musik komersial biasa; ini adalah malam perayaan megah—sebuah saksi bisu yang mempertemukan berbagai jiwa dari babak kehidupan kelam yang kini telah berhasil bangkit dan berpulang dari badai penderitaan.Di barisan kursi VIP terdepan yang eksklusif, atmosfer kehangatan keluarga begitu terasa pekat menyelimuti hati mereka.Adrian duduk berdampingan erat dengan Saifanny. Jemari tangan mereka saling bertaut erat di balik kegelapan kursi, menyalurkan ketenangan batin serta rasa cinta membara yang baru saja mereka ikrarkan lewat kejujura
Malam menjelang, membentangkan selimut gelap bertabur bintang di atas langit J-City. Di dalam ruang tengah kediaman Saifanny, wanita itu terduduk kaku di balik sofa ruang keluarga.Matanya yang kosong menatap hampa ke arah layar televisi yang tengah menayangkan sinetron malam, sementara pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu, meresapi keheningan yang menyelimuti seisi ruangan.Ting! Nong!Suara bel pintu yang ditekan secara tiba-tiba memecah kesunyian malam. Saifanny perlahan mengerjap, bangkit dari sofa dengan langkah gontai, lalu berjalan pelan menuju pintu depan untuk membukanya.Begitu daun pintu terkuak, sosok Adrian berdiri di ambang pintu dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.Di tangan pria itu terselip sebuket bunga mawar merah segar serta paper bag berukuran besar yang mengepulkan aroma lezat pizza dari kedai langganan mereka di masa lalu.Saifanny tersenyum tipis, mempersilakan Adrian masuk untuk duduk, sementara ia sendiri berputar arah menuju
Siang menjelang sore, mobil Bima merayap pelan memasuki area parkir basement gedung Utama Group.Begitu mesin dimatikan, Bima terdiam kaku di balik kemudi. Selama beberapa detik, ia hanya duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk hebat.Ririn sama sekali tidak menderita amnesia; wanita itu telah memperdayanya dengan akting busuk yang rapi. Seharusnya ia menyadari sejak awal bahwa Ririn adalah orang bermuka dua yang teramat pintar bersandiwara.Sementara itu di kursi penumpang depan, Ghina melirik ke arah Bima dengan raut wajah yang diselimuti kekhawatiran.Ia terlalu takut untuk sekadar menegur, bahkan tak berani melayangkan sentuhan lembut di bahu pria itu seperti yang ia lakukan di rumah sakit sebelumnya."Aku mau bertemu Adrian sebentar. Kamu mau nunggu di mana? Di kantin?" Ucap Bima tiba-tiba, memecah keheningan kabin.Ghina langsung mengerjap, lalu tersenyum tipis. "Aku mau ikut ke kantor, Pak. Udah lama gak ketemu temen-temen," Kata Ghina riang,
Siang itu, koridor rumah sakit terasa begitu membekukan, diliputi oleh bau cairan antiseptik yang tajam. Bima dan Ghina berdiri mematung tepat di depan daun pintu ruang rawat Ririn. Dari balik celah pintu yang tertutup rapat, terdengar gelak tawa Ririn dan Nisa yang meledak riang, menghantam kesadaran Ghina dengan rasa ironi yang amat menyengat. Bima menoleh perlahan, menatap Ghina yang berdiri menegang di sampingnya. "Kamu yakin pengen ketemu sama dia? Bagaimanapun, dia itu orang yang pernah nyayat leher kamu," Tanya Bima dengan suara pelan yang dibalut kecemasan mendalam. Ghina mengangguk pelan, jemari tangannya terulur menyentuh bekas luka jahitan yang menimbul di leher kirinya—sebuah jejak trauma fisik yang tak pernah benar-benar sirna. "Dia mungkin masih amnesia, Pak. Tapi aku cuma pengen melampiaskan semua amarahku," Ucap Ghina dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak benci di dadanya. Melihat penderitaan batin wanita di hadapannya, Bima mengulurkan tangann
Siang yang cerah menerangi langit Pengadilan Negeri J-City dengan pendar mentari yang hangat. Setelah persidangan panjang untuk memenjarakan suami iblisnya resmi berakhir, Dewi keluar dari ruang sidang utama itu dengan langkah kaki yang pelan. Di balik hela napas beratnya, beban trauma yang menghimpit dadanya bertahun-tahun seakan terangkat luntur. Ia memejamkan matanya sejenak, meresapi kebebasan yang kini benar-benar menjadi miliknya, lalu bertekad untuk kembali tegar—menjalani terapi pemulihan jiwa dan merajut kembali kehidupannya ke arah yang lebih baik. Dewi mendongakkan kepalanya perlahan, membiarkan cahaya siang menyapu wajahnya. Namun seketika itu pula, manik matanya melebar luar biasa. Di seberang lorong ruang sidang yang agak lengang, berdiri sosok Mawar, Tyas, dan putri kecilnya—Mabelle—yang sudah lebih dari satu tahun tak pernah ia temui. Mabelle berdiri kaku di sana dengan sepasang mata bulat yang sudah basah oleh genangan air mata. Putri kecilnya yang dahu
Suasana Pengadilan Negeri J-City pagi itu begitu mencekat dan riuh oleh kilatan lampu kamera puluhan awak media. Ruang sidang utama dipenuhi oleh riak ketegangan yang membumbung tinggi, menciptakan atmosfer berat yang menekan dada siapa pun di dalamnya. Di barisan kursi pengunjung, Saifanny duduk bersandar dengan tubuh bergetar halus. Ia didampingi oleh Adrian yang merengkuh rapat pundaknya—menjadi perisai kokoh yang menyalurkan kehangatan serta rasa aman—sementara Syahdan menggenggam erat jemari sang ibu dengan tatapan matanya yang polos namun dipenuhi kecemasan. Di sisi lain ruangan, Bima dan Ghina menatap lurus ke arah kursi pesakitan dengan pendar mata yang dingin nan membatu, menuntut keadilan mutlak atas segala trauma yang pernah torehkan oleh sang terdakwa. Di atas kursi terdakwa, Marcus duduk bergeming dengan setelan kemeja putihnya yang kaku. Kendati sisa-sisa memar bekas keperkasaan pukulan Adrian masih membayang samar di wajahnya, pria itu tetap mempertahankan gestu
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







