Marcus menghembuskan napas pelan, meredam sisa kepanikan di dalam dadanya. Ia tidak menunjukkan riak ketakutan sedikit pun saat menyadari Adrian mengunci pandangan padanya.Sebaliknya, dengan gestur berani dan kepercayaan diri yang meluap-luap, Marcus mengayunkan langkah mendekati pria itu."Selamat siang, Pak Adrian," sapa Marcus seraya menyunggingkan senyum cerah yang dipenuhi kepalsuan.Tatapan mata Adrian yang tajam dan menusuk tak lepas sedikit pun dari garis raut wajah Marcus yang teramat menyebalkan di hadapannya."Siang," jawab Adrian singkat, dingin, dan kaku.Marcus mengalihkan pandangannya melintasi bahu Adrian, menatap ke arah pintu depan panti jompo seolah-olah sedang menyisir keberadaan seseorang."Sedang menunggu putra Anda, Pak? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya Marcus dengan intonasi nada yang terdengar sangat memancing nada emosi Adrian.Marcus menghentikan kalimatnya sejenak, menatap lekat raut wajah Adrian yang kaku dan enggan membalas. Sebuah senyuman mirin
Leer más