Mag-log inRirin cepat-cepat mematikan panggilan yang belum sempat tersambung itu. Kepanikan mendadak menyergap dadanya hingga napasnya memburu kencang.Di dalam batinnya, gejolak pertanyakan berkecamuk hebat—apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya sampai ia harus merendahkan derajatnya untuk meminta pertolongan pada wanita seperti Saifanny?"Sialan! Apa yang kupikirkan?! Meminta tolong pada wanita munafik sepertinya hanya akan membawa sial!" Umpat Ririn parau seraya menggenggam erat ponsel burner di tangannya, merutuki kelemahan mentalnya sendiri.Cklek!Tiba-tiba engsel pintu berderit terbuka. Doni, berdiri di ambang pintu seraya membawa sebuah mangkuk berisi bubur hangat yang asapnya masih mengepul tipis."Non, makan dulu," Kata Doni dengan intonasi suara berat yang menyembunyikan kelelahan luar biasa.Semenjak pelarian dramatis mereka berhari-hari lalu, Doni terus memasang mode siaga penuh tanpa henti untuk memastikan keselamatan Ririn.Kelelahan fisik dan mental itu terpatri nyata
Hujan gerimis membilas atap seng sebuah kontrakan sempit di kawasan pemukiman kumuh pinggiran J-City. Bau lembap tanah bercampur aroma sampah menyengat muatan udara ruangan yang temaram dan pengap. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, Ririn duduk bersila di atas kasur lipat tipis yang kusam. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak pucat, kusam, dengan lingkaran hitam pekat mengurung sepasang matanya. Napasnya memburu samar. Sudah berhari-hari ia terkurung di tempat busuk ini, hidup bagai tikus got yang bersembunyi ketakutan dari cerlang cahaya matahari. Ririn melirik ke arah meja kayu ringkih di sudut ruangan. Di sana tergeletak sebungkus nasi rames yang sudah dingin dan sebuah ponsel tanpa kartu SIM—burner phone murah yang ia beli menggunakan uang tunai dari pedagang kaki lima di pinggir jalan. Rasa takut, panik, dan amarah yang meluap-luap bergulat hebat di dalam dadanya, menciptakan paranoia pekat yang menyiksa jiwa dan merusak akal sehatny
Sore hari perlahan berganti menuju malam di J-City. Di dalam ruang rawat inap Ghina yang tenang, Bima mendudukkan dirinya di atas kursi kayu persis di samping ranjang.Sebuah laptop milik Ghina terpangku di atas pahanya, namun pendar layar kaca itu hanya memantulkan garis-garis wajah Bima yang murung.Sorot matanya redup, seolah-olah segala deretan data dan informasi pencarian di hadapannya tak lagi memiliki arti apa pun.Ghina yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi menangkap ekspresi frustrasi dan beban berat yang terpancar dari figur pria itu."Pak Bima..." panggil Ghina pelan sembari melangkah mendekati sisi ranjangnya.Bima segera mendongakkan kepala, menatap Ghina dengan pandangan bertanya yang menyimpan kelelahan fisik dan mental."Kenapa, Ghina? Kamu butuh sesuatu?" tanya Bima dengan intonasi suara yang terasa lemah.Ghina menggelengkan kepalanya pelan. Ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, alisnya berkerut rapat.Dari intonasi nada suara Bima yang kehilangan
Keluarnya Marcus dari area pekarangan panti jompo meninggalkan atmosfer yang menyesakkan. Adrian berdiri bergeming di samping mobil mewahnya, mengawasi jalanan hingga figur Marcus benar-benar menghilang melangkah masuk ke dalam gedung laboratorium di sebelah panti jompo milik Saifanny. Jemari tangan Adrian yang semula mengepal kaku perlahan-lahan meregang, memperlihatkan permukaan telapak tangan yang memutih akibat tekanan emosi dan amarah yang ditahannya setengah mati. Tringgg! Tringgg! Dering nyaring dari ponsel di saku jasnya memecah hembusan angin siang yang kering. Adrian merogoh saku selulernya, menatap nama Gavin—pengacara kepercayaan keluarga Utama—yang tertera jelas di layar kaca. Pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. "Halo," Jawab Adrian singkat, menekan getaran dalam suaranya. "Tuan Adrian," Suara Gavin dari balik telepon terdengar sarat akan kecemasan profesional yang pekat. "Pihak kepolisian baru saja melayangkan surat p
Marcus menghembuskan napas pelan, meredam sisa kepanikan di dalam dadanya. Ia tidak menunjukkan riak ketakutan sedikit pun saat menyadari Adrian mengunci pandangan padanya.Sebaliknya, dengan gestur berani dan kepercayaan diri yang meluap-luap, Marcus mengayunkan langkah mendekati pria itu."Selamat siang, Pak Adrian," sapa Marcus seraya menyunggingkan senyum cerah yang dipenuhi kepalsuan.Tatapan mata Adrian yang tajam dan menusuk tak lepas sedikit pun dari garis raut wajah Marcus yang teramat menyebalkan di hadapannya."Siang," jawab Adrian singkat, dingin, dan kaku.Marcus mengalihkan pandangannya melintasi bahu Adrian, menatap ke arah pintu depan panti jompo seolah-olah sedang menyisir keberadaan seseorang."Sedang menunggu putra Anda, Pak? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya Marcus dengan intonasi nada yang terdengar sangat memancing nada emosi Adrian.Marcus menghentikan kalimatnya sejenak, menatap lekat raut wajah Adrian yang kaku dan enggan membalas. Sebuah senyuman mirin
Terik matahari siang J-City terasa menyengat, membakar permukaan beton dan besi di area proyek.Marcus berdiri kaku tepat di hadapan gerbang utama laboratorium Manggala Tech yang telah memasuki bulan kedua masa pembangunannya.Di balik kacamata hitam yang bertengger kaku di hidungnya, sepasang mata tajamnya mengedar, menyisir sekeliling dengan intensitas yang mengintimidasi.Batin Marcus bergolak hebat. Rasa frustrasi dan paranoia merayap perlahan, menggerogoti ketenangannya. Masalah di kehidupannya seolah-olah beruntun menumpuk tanpa muara penyelesaian.Mulai dari keberadaan Ririn yang mendadak lenyap bagai ditelan bumi, merosotnya nilai saham Manggala Tech di pasar bursa, hingga keheningan mendadak dari Saifanny yang sama sekali tak lagi menghubunginya sejak kepulangan mereka dari T-City.Marcus memalingkan pandangannya, menatap tajam ke arah kompleks bangunan yang berdiri berdampingan di sebelah proyeknya—panti jompo milik Saifanny.Sebuah kenyataan pahit menghantam kesadarannya
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







